SURABAYA, APA KARENA DIRIMU KOTA PAHLAWAN?

 


Surabaya, Apa Karena Dirimu Kota Pahlawan?

Surabaya, apa karena dirimu kota pahlawan, sehingga memintaku untuk terus berjuang?

(Surabaya, 14 Desember 2020)

    Hm, teringat waktu itu. semesta benar-benar membuat hati bersyukur atas nikmat Allah, yang membuat kaki dapat terus melangkah. Lalu tiba pada suatu waktu, saat kaki terluka. Rasanya ingin berteriak, menjerit, mengeluh, dan tak sanggup dengan sakitnya. Tetapi kedua kaki itu, ternyata masih terus bertahan untuk melangkah. Dari situlah sebuah kesadaran ditemukan. Bahwa berjuang, pasti akan mengalahkan rasa sakit.

    Setelah dipikir. Beruntung, yang terluka adalah kaki. Bukan hati. Mungkin, kalau hati yang terluka. Apakah kedua kaki yang tidak kenapa-napa, akan mudah untuk melangkah?

    Kaki yang sakit dan terus melangkah itu, karena ia memiliki sebuah tujuan yang jelas untuk diperjuangkan. Ia tahu kemana harus melangkah. Namun, bagaimana dengan hati yang sakit, ketika melangkahkan kaki, apakah juga selalu punya tujuan yang jelas? Ya, bisa jadi ia datang ke suatu tempat, sebab ia butuh alam untuk mengobati rasa sakitnya. Walau mungkin, batinnya telah pincang, dan tidak tahu harus kemana dalam benaknya.

    Jika ditanya, lebih memilih mana antara sakit kaki dan sakit hati? Tentu tidak mau dua-duanya. Pasti keadaan baik-baik saja selalu menjadi pilihan. Tetapi, hal yang tidak bisa dilupakan adalah, diri ini manusia. Yang pasti diuji keimanannya.

    Sepertinya, memilih untuk terus melangkah adalah sebuah pilihan yang tepat. Selama nafas masih terus berhembus. Agar berjuang, tidak pernah berjumpa dengan garis ending yang penuh penyesalan pada kenyataan yang masih rahasia dan di hari keabadian.

    Walau mungkin, tak banyak yang tahu. Kalau kaki yang terluka itu telah kembali berjuang di bumi Surabaya sejak bulan Desember lalu. Sepertinya, masih banyak yang mengira, ia tak beranjak kemana-mana di tanah kelahirannya.

    Bukan sengaja dirahasiakan, tetapi dirasa tak perlu diekspos dengan terang-terangan. Sebab, di situ ada privasi, yang tak harus orang-orang di luar sana urus dengan jelas. Membiarkan orang-orang di luar sana menyadari dan perlahan mengetahui dengan sendirinya, layaknya membuka mata dari tidur secara perlahan, atau seperti bunga yang kuncup bermekaran dengan keajaiban-Nya, dan seperti suapan demi suapan nasi yang membuat perut kenyang dengan rasa syukur.

 

Catatan Hati Anak Kampung

Surabaya | 05 Januari 2021


Comments