CULTURE SHOCK DI LINGKUNGAN KAMPUS
Culture Shock di Lingkungan Kampus
Culture shock merupakan sebuah istilah bagi seseorang yang terkejut/kaget dengan adanya kebudayaan/kebiasaan di tempat/lingkungan yang baru ia singgahi/tempati, disebabkan budaya/kebiasaan tersebut berbeda dengan budaya yang ia jalani di tempat sebelumnya. Hal ini biasanya terjadi bagi seorang perantau yang berdiaspora atau bagi seorang wisatawan. Yang mana mereka mengalami hal agak kontra untuk beradaptasi di tempat baru tersebut.
Sebenarnya culture shock ini merupakan hal wajar, sebab tiba di tempat baru memang butuh untuk menyesuaikan. Contoh saja, tahun 2016 yang lalu saya merantau ke Surabaya untuk kuliah. Tentu banyak sekali hal baru yang saya temui. Hal-hal yang berbeda dengan kampung halaman saya di Sumenep. Baik dari segi budaya, kebiasaan, pola hidup, aturan, nilai-nilai, dan lain sebagainya.
Jika ditanya apakah saya mengalami culture shock selama beradaptasi hidup di Surabaya, jawabannya adalah iya. Tetapi saya selalu berusaha untuk belajar, memahami, menghargai, dan memfilternya bagi diri saya. Di antaranya apa saja? Pertama, memakai lipstik ketika kuliah. Di awal semester, saya belum berani memakai lipstik. Karena sebelumnya selama di kampung halaman tidak pernah pakai lipstik ketika sekolah. Itu pun dilarang oleh pihak pesantren apabila para santriwati memakai lipstik atau make up dan semacamnya. Entah, saya kurang tahu kalau di sekolah yang bukan pesantren, dibolehkan atau dilarang. Tetapi kemudian, karena di lingkungan kampus tidak dilarang memakai lipstik, akhirnya saya pun terikut dan tertarik juga untuk menggunakan lipstik. Awalnya, disuruh nyoba sama teman untuk pakai lipstik miliknya. Katanya, agar saya tidak kelihatan pucat. Saya pikir tidak ada salahnya mencoba saja. Ternyata setelah nyoba malah tertarik untuk pakai lipstik juga ketika kuliah atau di lingkungan kampus. Beli lipstik sendiri deh jadinya. Apakah ada yang mengalami hal serupa seperti yang saya alami ini?
Kedua, membawa peralatan make up dan dandan di lobi kampus atau di kelas. Ini juga kebiasaan baru yang saya temui saat kuliah. Sebelumnya saat di dunia sekolah saya tidak pernah menjumpai hal ini. Jangankan dandan di sekolah, bawa peralatan make up saja adalah sebuah larangan. Bawa cermin kecil ke sekolah, kalau ketahuan bisa dirampas. Tapi yang saya lihat dan saya saksikan di kampus, hal itu seakan merupakan hal biasa dan tidak apa-apa. Untuk kebiasaan yang ini, jujur saya memilih untuk tidak menirunya. Kenapa? Karena saya masih merasa malu, sungkan, dan tidak bisa kalau dandan di antara banyak orang, meskipun itu hanya dilihat teman-teman perempuan sendiri. Pun juga membawa peralatan make up ke kampus, saya merasa hal ini tak perlu. Sebab saya tak suka jika di tas yang saya gunakan dengan tujuan untuk kuliah/belajar itu ada make up-nya. Itu salah satu alasannya. Mungkin juga karena dipengaruhi faktor saya tinggal di asrama kampus. Jadi, shalatnya itu ke asrama. Yang mana jaraknya cukup dekat dengan fakultas. Faktor lokasi tempat tinggal di asrama yang dekat tersebut memang sangat mendukung, jadi kalau mau dandan lagi karena habis dihapus air wudhu’ bisa dilakukan di asrama saja.
Tetapi, jujur pada dasarnya hatilah yang tidak mau diajak kerjasama untuk menjadikan kebiasaan baru yang saya temui itu untuk diterapkan. Saya tentu pernah bawa peralatan make up dan ditaruh di tas, dengan catatan apabila bepergian jauh. Seperti saat tour atau ziarah. Tentu ini perlu untuk bawa, karena perjalanan lebih dari satu hari. Sabun dan sikat gigi pun dibawa untuk keperluan bersih-bersih diri. Sedangkan make up saya pun tidak banyak, cukup cream wajah, bedak, celak, dan lipstik, sudah itu saja sih. Tidak memakai dan memang tidak punya make up seperti maskara, blash on, shadow, air liner, dan semacamnya. Jujur meskipun saya perempuan, masih tidak paham jenis dan macam make up itu apa saja.
Argumen saya ini bukan berarti mengklaim yang berani dandan di kampus itu hal yang salah, tidak. Yang bawa peralatan make up ke kampus pun juga tak salah. Dan yang pakai make up seperti maskara, blash on, dan semacamnya juga tak salah. Sebab, hal tersebut sudah merupakan hal yang biasa dan wajar saja di lingkungan kampus. Yang mana setiap pribadi punya pilihan masing-masing, mau mengikutinya atau tidak. Apalagi perempuan itu berdandan tak semuanya mereka memiliki niat untuk membuat tertarik laki-laki. Tetapi, mereka berdandan untuk dirinya sendiri. Bisa juga karena ingin merawat dirinya untuk suaminya kelak. Masalah anggapan orang lain aneh-aneh, itu adalah masalah mereka sendiri. Kemudian, pernah tidak, di suatu kesempatan ketika berjumpa teman pakai lipstik di toilet kampus lalu minta? Pernah. Wkwkwk. Dilipstikin teman di kampus juga pernah.
Culture shock yang ketiga di dunia kampus adalah pakai celana jeans. Jangan ditanya ada berapa banyak orang yang pakai. Hampir selalu menemui. Teman-teman dari prodi lain ada yang menilai bahwa di prodi saya itu mayoritas perempuannya pakai celana jeans semua. Namun, saya pribadi memilih untuk pakai rok atau jubah. Ada beberapa alasan yang membuat saya tak mau pakai celana jeans. Di antaranya adalah karena sejak dari dulu tidak pernah dipakein celana jeans sama orang tua. Saya pribadi pun beranggapan bahwa untuk pergi ke kota atau sebuah kota besar seperti Surabaya itu tak masalah apabila pakai rok dan tak wajib pakai celana jeans. Dulu saat verifikasi UKT ke kampus, pertama kali tahu dan menginjakkan kaki di kampus, saya memakai rok, melihat ternyata dunia kuliah yang bisa dikatakan berada di pusat kota besar, juga banyak kok kumpulan yang pakai rok. Hal itu pula yang menguatkan anggapan saya, bahwa untuk pergi ke tempat baru atau ke kota besar, sah-sah saja berpakaian sebagaimana yang dipakai di kampung halaman. Tidak wajib beralih ke style memakai celana.
Apa yang saya katakan ini bukan berarti orang yang pakai celana jeans itu merupakan orang yang salah tiada ampun ya, tidak. Kalau bagi saya pribadi, tidak papa pakai celana jeans. Namun tetap, saya lebih pro kepada yang bajunya sampai di atas lutut atau tidak menampakkan lekuk pinggulnya. Karena, berdasarkan dawuh guru saya, pakaian yang nyetrit itu kurang ajeg untuk dipakai. Saya pun menuliskan argumen ini bukan berarti saya telah merasa benar dalam berpakaian, justru saya juga masih dalam tahap belajar dan berusaha mengenakan yang lebih baik lagi menurut ajaran Islam. Kalau celana kain atau celana olahraga yang tidak nyetrit, saya pribadi pro untuk yang jenis ini. Ayah juga membolehkan, dan saya pun pernah pakai saat kuliah semester satu. Celana kain pernah saya pakai saat PKK-MB, sedangkan celana olahraga pernah saya pakai saat JJS ke Taman Bungkul dan saat outbound diklat.
Kemudian, yang cukup membuat saya sangat gelisah dalam menghadapi culture shock di dunia kampus adalah bonceng ke yang bukan mahramnya. Saya menolak dan menyampaikan secara baik-baik terhadap teman laki-laki saya di kampus, bahwa saya tidak bisa dan tidak terbiasa bonceng ke yang bukan mahram saya. Untunglah mereka bisa menghargai saya dan memahami. Karena, jujur sejujur-jujurnya. Bonceng ke yang bukan mahramnya adalah hal yang sangat terlarang di kampung halaman saya. Kampung halaman saya adalah lingkungan pesantren tradisional yang begitu kental menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai ajaran agama, kitab, dan fiqih. Bahkan, siswa-siswi atau santri-santriwati yang ketahuan melakukan pelanggaran ini oleh guru atau pihak sekolah dan pesantren, risiko yang harus ditanggung di antaranya adalah diskorsing, tidak naik kelas, fatalnya sampai bisa dikeluarkan dari sekolah. Nah, hal inilah yang melarang saya pula untuk tidak melakukan bonceng kepada yang bukan mahram saya di kampus. Tetapi pertanyaannya apakah sama sekali tidak pernah saya bonceng pada yang bukan mahram saya di kampus? Jawabannya adalah pernah. Ada beberapa faktor dan alasannya. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan dan bercerita kronologinya, beserta alasan-alasannya satu persatu.
Seperti ini ceritanya, sejak awal saya terbilang kekeh sekali tak mau dibonceng oleh lawan jenis yang bukan mahram saya. Seiring waktu berjalan, ternyata hal itu membuat saya dihadapkan pada pilihan bonceng pada teman/orang yang bukan mahram saya. Ada 5 sosok lawan jenis saat kuliah yang mana saya pernah bonceng padanya. Sebut saja sosok-sosok itu adalah A, B, C, D, & E.
Saya pernah bonceng sama A saat kami tengah ikut kegiatan pengabdian, yaitu Bina Desa di Desa Gunung Rancak, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampung. Dia adalah teman saya di kampus. Teman dalam satu organisasi. Salah satu program kegiatan saat pengabdian di sini adalah mengajar di sekolah-sekolah. Ada beberapa lokasi sekolah yang dijadikan tempat pengabdian. Semua peserta yang terlibat dalam Bina Desa ini ikut mengajar, yang mana dari berpuluh-puluh orang jumlah kami, dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk mengajar di sekolah-sekolah. Saya satu kelompok dengan A beserta beberapa teman lainnya untuk mengajar di satu lokasi sekolah. Jarak sekolahnya, sebenarnya menurut saya pribadi tidak jauh-jauh amat, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Setiap pagi, kami semua pergi mengajar di sekolah-sekolah tersebut. Jujur, di antara sekian banyak peserta, hanya saya lah, yang tidak mau bonceng sama teman laki-laki, sebab saya masih ingin berpegangan dengan apa yang tak ingin saya langgar, serta melihat ada teman perempuan yang juga bisa naik sepeda motor. Pikir saya, tentu bisa dong saya memilih teman perempuan untuk membonceng saya. Tetapi, ternyata tidak semudah yang saya pikirkan. Kami terbatas dalam transportasi untuk digunakan ke sekolah. Ditambah, kami berbeda tujuan, dan kelompoknya pun tak sama. Bahkan, sampai bolak-balik antar jemput antara satu teman dengan teman lainnya untuk ke sekolah. Di kelompok saya sebenarnya ada teman perempuan yang bisa naik sepeda motor, tapi dia bisanya pakai yang matic. Sedangkan yang punya sepeda motor di kelompok saya adalah teman laki-laki, sepeda motornya bukan matic. Bahkan sempat, dari saking peduli pada keegoisan saya, di kelompok kami pun pinjam/tukeran sepeda motor yang matic ke kelompok lain agar saya bisa dibonceng oleh teman perempuan di kelompok saya.
Hingga, tibalah pada suatu waktu, saya lupa mengapa bisa seperti itu. Sepertinya, kalau tidak salah dikarenakan transportasi kami semakin terbatas, sebab banyak teman-teman kami yang pulang lebih awal dengan sepeda motornya. Sampai akhirnya teman perempuan di kelompok saya pun tak bisa lagi bonceng saya ke sekolah, sebab dia sendiri pun masih bonceng ke teman laki-laki di kelompok kami untuk pergi ke sekolah. Akhirnya, karena seperti itu, saya memilih untuk jalan kaki saja untuk ke sekolah. Tetapi kemudian, teman laki-laki di kelompok saya datang menjemput saya. Saya sudah menolaknya berkali-kali tidak mau untuk bonceng padanya. Sampai terjadi perdebatan di antara kami. Dia bilang, saya jangan terlalu egois dengan terlalu mempertahankan prinsip saya. Kata dia, prinsip saya ini sebenarnya baik, tapi untuk saat itu, bukan lagi waktunya memikirkan soal prinsip saya sendiri, tetapi berikanlah kesempatan untuk memikirkan orang lain. Yaitu, murid-murid di sekolah yang sudah menunggu saya. Waktu itu memang sudah menunjukkan sekitar jam setengah delapan pagi. Tentu, saya sudah telat.
Saat itu, kami ada di sebuah jalan, masih belum jauh dari homestay. Di sebuah jalan pedesaan menuju sekolah. Di tengah waktu perdebatan kami, tiba-tiba banyak Ibu-Ibu yang hampir saja jaraknya dekat dengan kami, entah mau pergi ke mana, yang jelas akan melewati kami. Nah, saat itulah saya berpikir, yaudah lah bonceng saja pada dia. Saya merasa tak enak hati kalau disaksikan orang-orang desa berdebat dengan teman saya itu. Sebab, saya dan teman saya adalah pendatang. Jadi, kurang apik apabila mereka melihat kami berdebat seperti itu. Nanti, dikira ada apa-apa yang tidak-tidak, atau malah nantinya akan jadi perbincangan warga dan melabeli kedatangan komunitas kami tidak baik di desanya. Sebelum Ibu-Ibu desa lewat di depan kami, saya pun langsung naik ke sepeda motor teman saya. Prinsip yang saya pegang pun pecah saat berhadapan dengan situasi seperti itu.
Sampai di sekolah, saya langsung turun, menuju kelas, dan mengajar. Dengan segala perasaan tidak stabil, gundah, dan merasa bersalah pada diri saya sendiri. Tetapi, saya tidak menunjukkan hal itu di depan anak-anak. Saya memperlihatkan bahwa diri saya baik-baik saja. Namun, saat tiba waktu istirahat, saya merasa masih marah pada teman saya itu. Saya dan A diam-diaman tak saling menyapa. Berlangsung selama beberapa hari kemudian, saya dan A tidak seenak bertegur sapa seperti awalnya. Perlahan-lahan pertemanan di antara kami pulih dan biasa. Meski saya tetap merasa bersalah pada diri saya sendiri. Saya jadi tak karuan sebenarnya siapa yang salah. Ego saya menyalahkan si A telah memaksa membonceng saya untuk pergi ke sekolah dengan niat baiknya mengantar saya agar tidak telat terlalu lama. Tetapi, ia tak sepenuhnya salah, karena saya pun akhirnya memilih mau untuk diboncengnya. Teringat kata Mark Manson “Menyalahkan orang lain hanya akan melukai diri Anda sendiri”. Saya merasa benar karena saya percaya prinsip saya itu benar. Inilah, yang membuat saya tak enak hati terhadap diri saya sendiri dan awalnya begitu menyalahkan si A.
Di tengah kepentingan kegiatan komunitas yang seperti itu, sebenarnya saya dituntut agar belajar tidak mementingkan diri saya sendiri. Ah, seperti inilah tanggungjawab atas apa yang telah saya pilih. Saya pun juga tak ingin menjadi sok ahli ajaran agama. Tapi, sebenarnya hati kecil ini, hanya ingin patuh pada nilai-nilai yang selama ini diajarkan oleh orang tua dan guru-guru di pesantren. Saya takut untuk melanggarnya. Termasuk, boncengan dengan laki-laki yang bukan mahram. Belasan tahun saya hidup di lingkungan yang melarang perempuan dan laki-laki yang bukan mahrahmnya itu tidak boleh. Maka, tidak mudah begitu saja melepas nilai-nilai itu ketika saya tidak lagi ada di lingkungan sebelumnya, lalu berada di lingkungan baru yang membolehkan atau biasa saja boncengan dengan yang bukan mahramnya.
Saya memang bukan orang ahli agama, tapi dulu di pesantren, dari para guru dan orang tua, diajarkan bahwa boncengan dengan yang bukan mahramnya itu tidak boleh. Ajaran dari orang tua dan para guru itu, bukan tanpa dasar. Bukan sebuah budaya yang kami bentuk sendiri secara natural. Tapi memang ada di kitab fiqih. Di kitab fathul qarib itu ada. Lalu, kemudian lingkungan kami menerapkan nilai itu dalam hidup kami. Berdasarkan yang saya pelajari, terkait tidak bolehnya berboncengan dengan mahramnya, alasannya adalah karena berdua saja dalam berkendara itu termasuk dalam kategori khalwat. Sebenarnya hal ini bisa boleh, tetapi dengan syarat yang tidak secara gamblang langsung membolehkan. Misalnya, dalam situasi darurat sekali untuk menolong keselamatan nyawanya, dan lain-lain. Dulu waktu kecil juga telah diajari macam-macam mahram dan siapa saja yang disebut mahram. Duh, tapi saya merasa tak pantas untuk menggurui di sini. Intinya, saya tidak mau dibonceng laki-laki yang bukan mahram itu bukan tanpa dasar. Anggapan egois yang saya terima, itu sudah sebuah konsekuensi yang harus saya telan.
Sebenarnya kalau dipikir lagi sekarang ya, kenapa saat Bina Desa di Sampang waktu itu, saya tidak minta diroling/ditukar saja dengan teman lainnya yang jarak sekolahnya dekat sekali dengan homestay kami. Agar saya tidak usah repot-repot dibonceng untuk ngajar ke sekolah. Harusnya saya waktu itu ngelobi ke panitia yang membagi kelompok, dengan alasan karena saya tak ingin menyusahkan teman-teman harus bonceng saya, apalagi kalau sampai dibonceng teman laki-laki, saya tidak bisa. Apalah daya, nasi sudah menjadi darah dan daging. Waktu itu sudah menjadi lembaran sejarah.
Terus pertanyaannya, dari Surabaya ke Sampang awalnya naik apa? Saya naik bus dengan teman perempuan saya. Saya sebenarnya telat dua hari di acara Bina Desa itu. Sebab, saya memilih untuk menyelesaikan KRS-an dulu di kampus. Baru setelah itu berangkat ke lokasi Bina Desa. Sedangkan, teman-teman yang lainnya berangkat bersamaan mulai dari hari pertama. Hal ini pula yang awalnya cukup menjadi kontroversi antara saya bersama keluarga saat saya pamit mau ada pengabdian selama setengah bulan di Sampang. Yang mana, keberangkatannya ke sana, berdasarkan rencana awal harus bonceng dengan salah satu teman laki-laki saya dari kampus dengan naik sepeda motor. Tentu, hal ini langsung ditentang sama Ayah, Ibu, Mbak, dan Kakak Ipar saya. Karena hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang diterapkan di lingkungan daerah kami. Letak permasalahannya adalah karena saya mau bonceng ke teman laki-laki yang bukan mahramnya saya. Akhirnya saya berpikir, jika saya tidak boleh bonceng sama teman laki-laki saya untuk keperluan tersebut, lalu mengapa selama ini saya dibolehkan sama keluarga berbonceng ke Suami Bibi saya (Paman saya) yang bukan mahramnya saya, lalu bonceng ke Kakak Ipar dan sepupu laki-laki saya di rumah. Yang jelas-jelas mereka bukanlah mahramnya saya. Pertanyaan saya ini disanggah tegas sama Mbak saya, bahwa Paman, Kakak Ipar, dan sepupu laki-laki saya itu keluarga besar yang tinggal serumah. Tentu tidak akan menjadi pembicaraan tetangga dan tidak akan dinilai tidak baik oleh masyarakat setempat. Namun, sejujurnya, dalam pemikiran saya, jika memang mau patuh dan taat dengan ajaran agama, tentu hal tersebut juga tidak boleh. Walaupun mereka termasuk keluarga besar yang dekat dan tidak akan dinilai tak baik oleh orang-orang sekitar.
Karena saya tak mau bertengkar dengan keluarga, tak ingin menjadi anak yang membantah dan tak nurut, serta tak ingin membuatnya kecewa, saya pun bersih keras untuk menghindari hal tersebut. Oleh sebab itulah, saya memilih berangkat naik bus ke Sampang dan minta dijemput dengan kawan perempuan lainnya dari lokasi Bina Desa.
Yang kedua kalinya, saya pernah bonceng lagi sama A. Hal ini disebabkan saya hampir jatuh dari sepeda motor saat bonceng ke teman perempuan saya di jalan raya. Waktu itu kami sedang dalam perjalanan menuju IAIN Madura untuk menghadiri undangan seminar di sana. Hampir saja teman perempuan saya mau menabrak sepeda motor di depannya saat lagi macet di jalan, karena teman perempuan saya dari belakang cepat sekali. Sebenarnya sudah keseruduk sedikit ke sepeda motor di depannya, untunglah tidak kenapa-napa. Allah masih melindungi dan menyelamatkan kami. Teman perempuan saya pun jadi gemeteran karena kejadian itu. Begitupun dengan saya, pada saat teman saya itu ngerem mendadak, saya tiba-tiba langsung miring ke samping dan turun dari sepeda motornya. Untuk kali ini, saya mengalah, tidak lagi kekeh harus tetap bonceng ke teman perempuan saya itu. Sebab, sudah berhubungan dengan nyawa seseorang. Maka, menurut saya itu sudah termasuk dalam kategori darurat. Tak mungkin kan, saya tetap egois memaksa agar dibonceng oleh teman perempuan saya itu dalam keadaan gemeteran dan kaget seperti itu.
Saya pun memilih bonceng sama si A. Karena sudah tidak ada teman perempuan lagi lainnya yang bersama kami saat itu. Hanya saya dan teman perempuan saya yang tadinya membonceng saya. Awalnya, saya ditawari untuk bonceng ke teman laki-laki lainnya yang bersama kami saat itu. Tapi, saya mikir, yasudahlah kan sebelumnya sudah pernah bonceng ke A saat Bina Desa. Jadi, tetap sama dia saja. Si A pun ketawa dan bilang ke teman-teman lainnya, katanya saya itu tak ingin dibonceng oleh banyak laki-laki lainnya. Makanya lebih milih sama dia saja. Wkwkwk. Akhirnya, saya pun bonceng ke A sampai kampus IAIN Madura. Pulangnya ke Surabaya, Alhamdulillah bisa bonceng lagi dengan teman perempuan saya yang tadi. Dia bilang sudah tidak apa-apa dan Alhamdullah kami selamat sampai Surabaya.
Ketiga kalinya, saya pernah dibonceng oleh B saat pulang ke Surabaya sehabis mengadakan kegiatan di Sampang bersama teman-teman komunitas kami. Hari sebelumnya, dari Surabaya ke Sampang saya dibonceng oleh dua sosok teman perempuan komunitas saya secara bergantian, ketika yang satu capek, diganti oleh satunya. Namun, ketika waktu kepulangan kami ke Surabaya, semua teman-teman perempuan pada capek, karena kami semuanya memang baru saja selesai bekerjasama menyelenggarakan acara di Sampang. Awalnya, saya tidak percaya tak ada teman perempuan yang bisa dan sanggup membonceng saya lagi. Ternyata, mereka semua benar-benar tidak ada yang sanggup. Semuanya memilih bonceng ke teman laki-laki. Saya masih berdiri di tempat. Hampir saja jatuh air mata saya ketika itu. Ya ampun, cengeng sekali saya. Satu persatu teman-teman semuanya sudah pada pergi. Tinggal saya yang tidak tahu siapa yang akan membonceng. B pun menyuruh saya agar bersamanya. B adalah teman sekampus saya. Komunitas ini adalah gabungan dari beberapa kampus di Surabaya dan Madura. Tentu saya tidak mungkin tetap berada di Sampang. Bagaimana pun saya harus pulang ke Surabaya. Akhirnya, saya pun mau bonceng dengan B, dengan perasaan yang sangat berkecamuk. Dan menurut logika saya, tentu saya lebih baik bonceng ke teman sekampus saja, daripada ke yang bukan sekampus. Pada saat saya naik untuk bonceng sama B, ada hal yang ingin membuat saya tertawa seketika. Karena B tiba-tiba berkata semoga Allah memaafkan saya dan B yang berboncengan, ia ucapkan menggunakan bahasa Jawa. Saat itu saya sudah berusaha mengalahkan keegoisan saya. Sebab, di samping teman perempuan merasa capek untuk membonceng saya, saat itu kondisinya lagi banjir di daerah Kota Sampang, sehingga rombongan kami mencari jalan pintas lain agar tidak melewati daerah yang banjir tersebut. Dan benar, ternyata rombongan kami melewati jalan pintas yang cukup terjal, pegunungan, berbatu, dan sepertinya cukup berbahaya kalau sampai perempuan yang menyetir. Lalu, B berkata pada saya, “nih kamu lihat sendiri jalanannya seperti ini, terus kamu masih ngotot mau bonceng sama teman yang perempuan”. Hati saya pun seakan-akan membenarkan kondisi saat itu, walupun masih belum menerima sepenuhnya.
Lalu, keempat kalinya, saya pernah bonceng dengan B lagi saat saya menghadiri acara diklat organisasi saya di Malang. Dari Surabaya saya bersama satu teman perempuan dan satu teman laki-laki naik bus. Tetapi, sesampainya di terminal Batu, kami masih harus dijemput lagi untuk sampai ke lokasi diklat. Entah kenapa tak ada panitia perempuan yang bisa menjemput saya. Sedangkan teman perempuan saya yang dari Surabaya itu tidak bisa naik sepeda motor yang bukan matic. Akhirnya saya pun mengalahkan keegoisan saya lagi. Ada tiga orang yang menjemput kami ke terminal Batu, salah satunya adalah B. Saya pun memilih untuk bonceng dengan B karena sudah pernah bonceng sama dia sebelumnya. Benar kata A sebelumnya, saya tak ingin terlalu banyak orang yang memboceng saya.
Kelima kalinya saya bonceng dengan C. Saya sendiri kurang tahu siapa dia. Intinya dia kakak senior yang saat itu ikut membantu menjemput pemateri seminar ke bandara Juanda. Saya bonceng padanya dari kampus sampai Masjid Al-Akbar. Karena setelah itu kami beralih naik mobil. Entah kenapa saya langsung mau. Sebenarnya saat itu saya salah mengira. Saya itu mengira akan dibonceng oleh teman perempuan saya yang waktu itu dipercayai oleh teman-teman panitia untuk sama-sama menjemput pemateri di bandara. Ternyata dugaan saya salah. Ternyata kami berdua mau diantar oleh kakak senior kami. Aduh, sudah benar-benar dalam keadaan tak bisa egois sepertinya saya saat itu. Bisa saja sebenarnya saya tiba-tiba langsung membatalkan ikut menjemput pemateri. Tapi, hal itu akan terkesan sangat jahat dengan organisasi saya yang telah memberi kepercayaan pada saya. Apabila pergi dan marah begitu saja di saat itu hanya gara-gara mementingkan prinsip saya sendiri. Ya Allah, tapi jujur saya mengakui kalau ini salah dan dosa. Mungkin, kalau guru saya mendengar hal ini, sepertinya pasti sudah sangat kecewa kepada saya.
Karena dulu saya sudah pernah bertanya ke guru saya, bagaimana hukumnya bersalaman kepada keluarga besar yang tidak bermahram. Jawaban guru saya malah memberi saya pertanyaan. Yaitu, “kamu lebih memilih menjaga perasaan manusia atau Allah?” Tentu saya langsung specchless. Bahwa memang, terkadang kebenaran itu terasa pahit, bagaimana pun pahitnya, tetap saja hal itu benar. Sedangkan kesalahan kerap kali terasa manis, tapi tetap saja ini salah.
Keenam kalinya, saya bonceng dengan D. Pada saat organisasi kami mengadakan kegiatan di salah satu SMA di Surabaya. Sebenarnya ya, diawal itu saya sudah bonceng sama teman perempuan saya. Tetapi, di tengah jalan raya, dia terasa kaku sekali menaiki sepeda motor. Setelah saya tanya, ternyata dia memang tidak begitu bisa mengendarai sepeda motor. Dia memberanikan dirinya demi saya, karena dia tahu saya paling tidak bisa bonceng ke laki-laki yang bukan mahram. Awalnya saya tetap biarkan dia tetap melaju mengendarai sepeda motor. Namun, ternyata ada pengendara lain yang tiba-tiba hampir menyerempet, sebenarnya kaki saya sudah kena sedikit. Teman perempuan saya itu ternyata tak paham berkendara di jalan raya sebesar Surabaya. Aduh, secara cepat saya berpikir, daripada membahayakan nyawa kami berdua dan berefek ke nama baik organisasi kami kalau kenapa-napa, saya pun menyuruh dia berhenti. Seraya memberhentikan D dan temannya yang ada di belakang kami, mereka adalah adik tingkat kami yang juga ikut kegiatan saat itu. D bersama teman laki-lakinya pun berhenti. Saya langsung menyuruh agar teman perempuan yang memboceng saya itu agar dibonceng saja. Akhirnya, saya bonceng dengan D, teman perempuan saya dibonceng teman D. Pulangnya dari sekolah SMA, saya meminta agar dibonceng oleh salah satu adik tingkat perempuan saya yang ada pada saat itu. Untunglah saya kenal baik dengan dia, dan dia mau bonceng saya.
Ketujuh dan kedelapan kalinya, saya pernah bonceng dengan teman saya, yaitu E. Kita sudah kenal sejak awal kuliah dan ada di satu organisasi pula. Kalau yang ini murni keinginan saya sendiri yang memintanya agar ditemani untuk membuat paspor ke kantor imigrasi. Saya cukup sering dan banyak berkomunikasi dengan dia. Bahkan soal pembuatan paspor pun saya nanya ke E, karena setahu saya dia paham hal ini. Pertanyaan saya, kok bisa ya prinsip yang selama ini saya pegang dan bahkan orang-orang yang meminta agar saya tak menggunakan prinsip itu, didebat dan dilawan oleh saya. Tetapi, kenapa tiba-tiba hanya karena ingin buat paspor lalu merasa tak apa-apa dibonceng dan ditemani dia. Kenapa? Apa karena sudah terlalu akrab? Pada saat buat paspornya, ditemani oleh E. Kemudian pada saat ngambil paspornya, juga ditemani E. Tapi jujur, alasan saya mau dibonceng dia karena, saya merasa dia paham soal ini. Jadi, dengan dibantu oleh E, maka saya tak akan pusing. Entahlah. Tetapi tetap, saya mengakui kok kalau dosa bonceng sama E. Saya bonceng sama E itu hanya ketika waktu pulangnya saja dari kantor imigrasi. Untuk berangkatnya ke kantor imigrasi, saya naik Grab Bike.
Kesembilan kalinya, saya pernah bonceng sama E lagi. Jadi, E itu lagi mau belajar presentasi bahasa inggris ke saya, karena dia mau ikut konferensi ke luar negeri. Sedangkan saya tidak mau belajarnya terkesan berduaan saja di kampus. Apalagi belajar berdua di masjid. Aduh, tentu saya takut lah. Bagaimana nanti kalau dilihat pengurus masjid yang kenal sama saya, tentu saya sangat akan merasa tak nyaman dan bersalah. Lalu, E mengajak agar belajarnya di luar kampus saja, di salah satu tempat makan dekat kampus. Awalnya saya tidak mau, karena harus bonceng dengan dia. Tapi, akhirnya entah kenapa saya mau. Ada satu hal yang tentu tidak bisa saya benarkan dari ucapannya, bahwa bonceng antara laki-laki dan perempuan itu asalkan tidak bersentuhan itu tidak dosa. Padahal sebenarnya, menurut apa yang saya pelajari selama ini itu tetap saja tidak boleh, walaupun tidak bersentuhan. Apalagi bersentuhan, tambah dosa. Dia membatasi punggungnya dengan tas ranselnya agar tidak bersentuhan dengan saya. Entah kenapa saya saat itu sudah merasa tak ingin berdebat dan bertengkar lagi soal prinsip saya. Tapi jujur, sekali lagi saya mengakui kalau ini dosa kok.
Kesepuluh kalinya, saya pernah bonceng ke tukang ojek di Sunan Muria. Hal ini terjadi karena, semua teman-teman rombongan yang perempuan naik ojek untuk sampai ke atas di makan Sunan Muria. Saya kira tidak ada jalan lain selain harus naik ojek. Selama naik ojek, jalanannya memang cukup terjal sekali, pegunungan banget, dan seperti hutan. Sesampainya di atas, saya dibercandain sama salah satu teman laki-laki saya yang memilih jalan kaki ke atas makam, katanya kenapa kok saya milih naik ojek, kenapa nggak jalan kaki saja untuk ke atas. Rombongan teman perempuan semuanya kompak naik ojek. Pikir saya, masak saya sendirian jalan kaki. Mungkin kalau ada beberapa teman perempuan yang jalan kaki, saya pastinya lebih memilih yang jalan kaki daripada yang naik ojek. Saat saya bercerita sama Ibu hal ini, Ibu pun marah sama saya. Karena memilih naik ojek. Tapi saya mencoba membuat Ibu paham dan mengerti dengan kondisi saat itu.
Kesebelas kalinya, saya pernah bonceng ke tukang ojek lagi saat mau menghadiri acara pernikahannya Ustadzah saya di daerah Pare. Saya ke sana bersama dua kawan. Kami awalnya naik bus dari terminal Bungurasih. Lalu, pas turun di sebuah tempat, ternyata tempat itu jauh sekali dari jangkauan transportasi online seperti Grab Car. Nah, kebetulan di situ memang ada pangkalan tukang ojek. Pantas saja di tempat itu ada pangkalan tukang ojek, karena tempat itu memang jauh dari jangkauan transportasi online. Sebelumnya kami telah mencoba berkali-kali mencari Grab Car di aplikasi kami, tapi tak menemukan satupun yang bisa terhubung. Pada akhirnya kami pun nyerah, dan memilih naik ojek offline saja yang ada di tempat itu. Dan, kami bertiga pun sampai di rumah Ustadzah kami itu yang sedang melangsungkan acara pernikahan.
Kedua belas kalinya, saya pernah bonceng ke teman saya saat melakukan penelitian di UB, dia juga anak UB. Dia lah yang mengantarkan saya ke tempat penelitian saya dan menemani wawancara di tempat penelitian saya itu. Sebab, saya sudah tak punya teman lagi yang lainnya di UB selain dia. Tak punya teman perempuan. Sebenarnya ada teman perempuan di UIN Maulana Malik Ibrahim, saya sudah menunggu dia, namun dia belum selesai KRS-an waktu itu. Sedangkan pihak UB sudah menyuruh saya agar segera ke sana.
Ketiga belas kalinya, saya pernah bonceng dengan tiga teman laki-laki saya saat KKN di Magetan. Entah kenapa, saat berada di sini saya merasa tak ingin bertengkar pendapat lagi soal bonceng pada lawan jenis. Saya lebih memilih untuk bisa memahami kondisi selama KKN yang mana di sini benar-benar dibutuhkan kerjasama. Selain itu, sebenarnya tentu saya lebih banyak bonceng dengan teman-teman perempuan saya. Bahkan, lebih memilih jalan kaki saja daripada harus bonceng ke teman laki-laki. Namun, saya tak menampakkan secara terang-terangan seperti dulu bahwa saya sebenarnya tidak bisa bonceng sama teman laki-laki. Saya biasa aja. Dan teman laki-laki saya di sini pun juga biasa aja. Kalau tidak mau, maka tidak memaksa.
Keempat belas kalinya dan sampai entah keberapa kalinya, saya sudah tidak menghitung lagi karena sudah sering. Saya itu bonceng ke tukang Grab Bike online. Untuk keperluan mengantarkan saya ke tempat yang ingin saya datangi. Saya pernah naik Grab Bike ke tempat kursus TOEFL di daerah Gayungan di Surabaya beberapa kali. Kemudian pernah juga naik Grab Bike untuk ngantar saya ke UNAIR saat ikut lomba dan saat melakukan penelitian di sana. Pulangnya pun juga naik Grab Bike dari sana. Terus, pernah juga naik Grab Bike untuk mengantar saya ke ITS, saat saya jualan buket bunga di acara wisuda di sana, pulangnya juga naik Grab Bike lagi. Pernah lagi, naik Grab Bike dari terminal Bungurasih untuk mengantarkan saya ke kampus, karena saya sudah kesal sekali, nungguin bus kota lama banget tidak berangkat-berangkat, sedangkan saya harus cepat-cepat tiba di kampus, sudah ditungguin teman.
Kalau dilihat dari awal cerita pertama kali tentang persoalan tersebut, di awal seakan saya keras sekali, egois, kekeh, berpegangan teguh pada prinsip saya untuk tidak boncengan dengan yang bukan mahram saya di tanah rantau. Namun ternyata, kemudian saya pada akhirnya mulai mau dan bisa bonceng pada yang bukan mahram saya. Tentunya, dengan alasan-alasan yang telah saya jelaskan di atas. Ya, kehidupan yang saya jalani di lingkungan perkotaan memang jauh berbeda dengan kehidupan di lingkungan desa atau perkampungan tempat kelahiran saya. Jika dulu saya dinilai egois karena kekeh tak mau boncengan dengan laki-laki yang bukan mahram, justru saat saya mulai mau sendiri untuk menggunakan jasa Grab Bike untuk mengantar saya, sayalah yang langsung sendiri merasakan bahwa diri saya telah sangat egois terhadap diri saya sendiri.
Sebenarnya, sebelum saya mulai mau untuk menggunakan jasa Grab Bike, saya itu banyak bertanya dan meminta pendapat kepada banyak perempuan yang saya kenal di tanah rantau. Baik kepada teman perempuan sebaya, kepada yang lebih tua/dewasa dari saya, kepada adik tingkat, kepada perempuan yang juga berasal dari daerah saya dengan latar belakang yang hampir sama, dan bahkan kepada sosok perempuan yang menurut penilaian saya lebih paham soal agama daripada saya. Sangat beragam jawaban mereka. Ada yang memang dibolehkan oleh orang tuanya untuk bonceng pada teman laki-lakinya, asalkan yang memang sudah kenal baik dan tahu bagaimana orangnya. Ada pula yang tak boncengan dengan teman laki-laki yang bukan mahramnya, namun tak apa jika bonceng ke Pak Grab Bike. Tetapi tetap, ia mengakui bahwa sebenarnya tak boleh, dan memang harus diakui bahwa sekalipun bonceng ke Pak Grab Bike itu dosa. Namun menurut pandangannya, dia lebih memilih bonceng ke Pak Grab Bike, karena itu sudah merupakan profesinya Pak Grab Bike untuk mengantar orang-orang. Sedangkan menurutnya, kalau sama teman-teman laki-laki yang bukan mahramnya masih merasa tak nyaman, tak biasa, dan khawatir ada rasa berbeda, sebab dia tidak memiliki profesi sebagaimana tukang ojek atau Grab Bike yang mana tugasnya memang untuk mengantarkan orang-orang ke tempat tujuannya. Akhirnya, saya pun lumayan pro dengan opini dia. Yang menggunakan jasa Pak Grab Bike untuk mengantar ke tempat tujuan, sebab memang itulah profesinya. Dari pada bonceng pada teman laki-laki.
Ada cerita pengalaman yang cukup membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Saat ingat, dulu lebih memilih menggunakan jasa Grab Car untuk mengantarkan saya ke TPQ pada pertama kali. Karena saat itu, saya masih belum bisa kalau bonceng sama tukang ojek/Grab Bike. Entahlah, pas saya ceritakan hal ini ke teman, saya dibilang kaya banget, karena mengeluarkan uang banyak demi tak bonceng dengan Grab Bike yang menggunakan sepeda motor. Katanya saya tuh, sok mewah banget, lebih memilih naik mobil, sendirian lagi. Wkwkwk. Bukan hanya sekali saya seperti itu. Tapi sudah beberapa kali, lebih memilih naik Grab Car saja untuk sampai ke tempat tujuan saya, daripada harus naik Grab Bike.
Semua kisah saya tentang bonceng sama siapa-siapa yang telah saya jelaskan di atas, tentu saya telah ceritakan semuanya sama orang tua. Tak ada satu pun yang orang tua tidak ketahui tentang saya. Saya merasa harus jujur dalam hal apa pun pada beliau. Awalnya tentu marah, saya dimarahi. Marahnya bukan langsung kejam tanpa ampun. Tetapi, marah dengan memberikan wejangan dan nasehat terbaik pada diri saya. Saya pun juga mencoba membuat mereka memahaminya dengan kondisi saya saat itu dan di tanah rantau. Ibu menyuruh saya agar sebisa mungkin untuk menghindari hal tersebut. Serta menyuruh saya agar meminta maaf sama Allah atas dosa-dosa itu. Ibu sebenarnya bisa mengerti dan paham dengan kondisi saya yang belum bisa mengendarai sepeda motor sendiri serta belum memiliki sepeda motor. Makanya, hal tersebut juga menjadi faktor yang membuat saya bisa bonceng kepada teman atau menggunakan jasa Grab Bike.
Mungkin, kalau tetangga atau guru-guru saya di pesantren tahu hal ini, bisa jadi akan kecewa dengan diri saya. Dan sebenarnya, mungkin kalau saya langsung begitu saja melupakan ajaran di pesantren dan sembarangan dengan gampangnya boncengan sama siapa saja di tanah rantau, hal ini pun mereka tidak akan tahu, karena mereka tidak akan melihat saya, kita jauh. Namun tetap, hati saya didera rasa bersalah. Dan saya bukan orang yang mudah melakukan hal sembarangan apa pun dengan gampangan, meski tak dilihat oleh orang-orang yang saya takuti. Saya selalu ingat. Dan berusaha tak mengecewakan. Untuk hal ini, saya pasrah atas konsekuensi akan dilabeli apapun, seperti melupakan ajaran pesantren dan semacamnya. Walaupun saya sebenarnya tak pernah benar-benar melupakannya dan telah berusaha untuk tetap mempertahankannya dalam hidup saya.
Saya pun, juga selalu berdoa, agar selalu dihindarkan dari jalan yang salah, serta diarahkan pada jalan yang benar kepada Allah. Bahkan, sempat berpikir, jika saya masih belum punya kesempatan untuk bisa naik sepeda motor sendiri, maka menikah adalah sebuah solusi. Jadi, berbonceng kepada suami yang sudah tentu sangat dibolehkan dan sangat halal, serta tentu tak akan jadi masalah bagi siapa pun. Namun sayangnya, sosok jodoh itu belum saya temukan. Di samping itu, saya memang masih santuy soal pernikahan, belum terburu-buru dan kebelet mau nikah.
Terkait cerita persoalan ini, mungkin orang yang tak suka dengan saya, akan menertawakan diri saya sepuas-puasnya. Kemudian orang sebaliknya, maka mereka akan memahami persoalan saya ini, atau kecewa. Saya pun juga sadar, bahwa saya juga hanya manusia biasa. Yang tak mungkin bisa memaksa dan membuat semua orang suka terhadap saya. Saya yang menjalani hidup saya. Dan saya pula yang telah mengusahakan untuk melakukan serta mempertimbangkan yang terbaik. Orang-orang bisa saja menilai saya tak baik, karena mereka sebenarnya tidak tahu persis dan tidak tahu betul-betul secara langsung apa yang saya hadapi dan yang saya lakukan. Saya pun juga jadi teringat perkataan Sayyidan Ali bin Abi Thalib: “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu”. Tetapi, saya menuliskan pengalaman ini sebagai rekam jejak hidup saya untuk diri saya sendiri. Jika ternyata ada orang yang bisa mengambil hikmah dari hal ini, maka saya bersyukur.
Saya menuliskan hal ini juga dikarenakan termotivasi dari manfaat menulis, baik dari Pramoediya Ananta Tour dan yang lainnya. Serta kata J.K. Rowling: “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui, tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”
Untuk jodoh saya, yang entah siapa kamu itu. Jika dirimu membaca tulisan pengalaman hidup saya yang ini, kau pasti paham, dan menerima semua itu. Jujur, saya tak mudah untuk sembarang bonceng dengan orang-orang kecuali dengan alasan tertentu dan memang perlu. Berbonceng pada laki-laki yang bukan mahram, adalah hal yang selalu saya usahakan untuk dihindari. Dan selama di tanah rantau, berbonceng pada Pak Grab Bike lebih saya pilih, karena memang itu profesinya, sehingga tak akan menimbulkan fitnah seperti apabila bonceng pada teman laki-laki atau ke yang bukan Pak Grab Bike. Jika dirimu memang jodoh saya, saya yakin dirimu bisa mengerti hal tersebut, dan memaafkan masa lalu atau pengalaman hidup saya tersebut, yang mungkin buat dirimu, itu juga merupakan hal yang salah. Untuk jodoh saya, tentu saya berharap dirimu adalah sosok yang juga tak mudah dan sangat menghindari membonceng perempuan sembarangan sana-sani, serta selalu menjaga dirimu. Karena sesungguhnya, saya adalah pencemburu. Bagaimana tidak, Tuhan saja juga pencemburu jika hambanya berpaling atau menjauh dari-Nya. Kata guru saya, “Innallah ghayyurun”, artinya “Sesungguhnya Allah itu Maha Pencemburu”. Lalu, mengapa saya tidak. Tentu saya juga punya rasa cemburu.
Untuk teman-teman laki-laki saya lainnya, yang pernah saya tolak ajakannya untuk berbonceng padanya, jangan sampai iri dengan apa yang telah saya ceritakan di atas. Mungkin kalian kecewa terhadap saya. Tetapi, saya juga berterima kasih kepada kalian semua, yang telah memilih untuk lebih menghargai prinsip saya. Kalian telah menjadi sosok yang lebih mengalah dan bisa mengerti saya. Bahkan, saya masih ingat dulu, saat saya menyampaikan bahwa saya tak bisa boncengan dengan laki-laki, teman laki-laki saya itu pun mencarikan teman perempuan yang bisa membonceng saya untuk pergi ke sebuah tempat bersama-sama. Misalnya seperti untuk menghadiri acara makan-makan bersama komunitas di restoran, ke perpusda cari buku referensi, atau ke lokasi wisata. Kalian telah begitu baik sekali, telah memahami apa yang tidak ingin saya langgar berdasarkan nilai yang saya pegang sejak dari kampung halaman.
Seperti itulah, persoalan tentang boncengan yang saya alami. Terlihat cukup pelik dan tak mudah. Insya Allah, saya akan terus selalu memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik. Aamiin.
Baik, culture shock terakhir, yang saya alami saat di tanah rantau adalah harus mingkem saat sedang makan. Saya diperingatkan oleh salah seorang teman saya yang tinggal sama saya di Surabaya. Ia mengatakan bahwa mingkem saat makan merupakan sebuah nilai, sopan santun, atau tatakrama saat makan. Saya bisa meng-accept nilai yang satu ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya di Surabaya. Kalau di Madura itu, sebenarnya yang tak boleh adalah kalau makan sampai membuat piring berbunyi, atau kecapannya dipola-pola. Ada bunyi sedikit saat mengunyah tak masalah. Sedangkan di tanah rantau itu, harus mingkem semingkem-mingkemnya, tak boleh ada suara sekecil apa pun. Jadi ngunyahnya benar-benar harus dalam keadaan bibir terkatup. Tak boleh ada celah sedikitpun.
Yah, itulah cerita soal culture shock yang saya alami saat hidup di tanah rantau. Ada yang bisa saya ikuti, ada yang tidak, ada pula yang sangat saya hindari. Semua hal itu, telah mewarnai hidup saya selama di tanah rantau. Dan saya, banyak belajar dari semua itu. Untuk menyesuaikan hidup, beradaptasi, dan bertahan hidup selama di sana. Karena saya juga setuju dengan pribahasa “Di bumi mana kaki berpijak, di situlah langit dijunjung”. Hal yang berkaitan dengan sopan santun, tentu saya ikuti. Namun, hal yang tidak ada kaitannya, masih saya filter untuk diri saya. Tidak langsung saya telan secara mentah-mentah. Tetapi, masih saya analisis berdasarkan pengalaman hidup sebelumnya serta dengan ilmu yang saya ketahui. Adanya perbedaan kebiasaan yang saya temui, mengajari saya untuk lebih bijak dan menghargai hal yang tak sama dengan gagasan saya.
Terima kasih untuk tanah rantau, Surabaya. Serta terima kasih pula untuk semua teman dan orang-orang yang hadir dalam hidup saya. Telah membuat saya belajar banyak hal.
Catatan Hati Anak Kampung
Pulau Garam | 01 Desember 2020







Comments
Post a Comment
Beri komentar, kritikan, saran, dan masukan yang membangun. Terima Kasih! Salam Sastra dan Literasi!