IRISAN BUAH MANGGA USTADZAH MILA

Irisan Buah Mangga Ustadzah Mila

   Kurang lebih dua belas purnama saya pernah hidup satu kamar bersama Ustadzah Mila. Saya suka sekali dengan tempe kecap dan sayur masakan ala Ustadzah Mila. Setiap pagi, Ustadzah Mila selalu mengajak untuk sarapan pagi. Makan dalam satu talam bersama-sama. Seperti santri di pondok pesantren.

   Kalau beli lauk, sering juga kita beli di Bang Boy Band (sebutan familiarnya oleh mahasiswa di kampus) di belakang kampus pada sore hari. Soalnya di situ murah. Wkwkwk. Beli sepuluh ribu saja sudah cukup. Bahkan masih lebih untuk dimakan sekali. Sehingga bisa dimakan untuk esok harinya.

   Layaknya sosok Ibu, Ustadzah Mila sampai pernah berbagi buah mangga dan mengiriskannya, agar semua yang ada di kamar juga ikut makan. Tak hanya itu, berbagi cerita dan berbagi banyak hal pula bersama. Saya kagum dengan cerita tentang saudara-saudaranya Ustadzah Mila yang saling peduli satu sama lain.

   Seringkali saya curhat banyak hal ke Ustadzah Mila, baik itu tentang kuliah, impian, cita-cita, keinginan, perjalanan hidup, bahkan soal hati. Wkwkwk. Pernah saat saya sakit dulu, saya dibuatin bubur sama Ustadzah Mila. Kata beliau: “Ayo makan, orang sakit harus banyak makan, biar cepat sembuh.” Dan masih banyak lagi cerita yang pernah dilewati bersama yang cukup dramatis, pahit, asam, manis, suka, luka, bahagia, air mata, dan segala rasa. Wkwkwk.

 

Sumenep | 17 Juni 2020

Comments