SAAT DINYATAKAN LOLOS LPDP

Saat Dinyatakan Lolos LPDP
(Catatan Perjuangan untuk Lanjut S2)

Pada bulan Mei 2021, saya mendaftar seleksi Beasiswa LPDP. Sebuah langkah yang lahir dari harapan panjang dan doa-doa yang tak pernah putus. Prosesnya saya lalui tahap demi tahap, dimulai dari seleksi administrasi. Saat pengumuman keluar dan nama saya dinyatakan lolos, hati ini benar-benar haru. Lalu berlanjut ke seleksi Tes Bakat Skolastik, dan alhamdulillah, kembali Allah memberi jalan dengan kelulusan. Hingga akhirnya saya bisa melangkah ke tahap paling menentukan, yaitu seleksi wawancara.

Hari-hari menunggu hasil seleksi wawancara adalah masa yang penuh gelisah sekaligus pasrah. Hingga pada tanggal 30 Agustus 2021, tepatnya malam hari sekitar pukul 19.12, sebuah SMS masuk ke nomer saya mengabarkan bahwa hasil seleksi sudah dapat dilihat. Jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Beberapa menit kemudian, tepat pukul 19.23, sebuah email dari LPDP masuk ke kotak pesan saya, berisi ucapan selamat atas kelulusan saya pada seleksi wawancara.

Namun anehnya, saya belum langsung percaya. Dengan tangan gemetar, saya membuka akun pendaftaran LPDP saya sendiri. Saya mengakses pelan-pelan, sempat terjadi error connection karena banyak yang mengakses, hingga saya mencoba berulang kali, hingga akhirnya kenyataan itu benar-benar terpampang jelas di aplikasi pendaftara, bahwa saya lulus. Di titik itu, seketika langsung speechless. Perasaan yang hadir bercampur aduk, haru, syukur, bahagia, dan tangis yang tak bisa ditahan. Air mata menetes, dan refleks tubuh ini langsung bersujud syukur. Saya menangis bahagia dan bersyukur yang entah harus dengan kata apa saya ungkapkan. Setelah itu, saya menelepon Ibu. Suara beliau di seberang sana menjadi saksi pertama dari tangis bahagia yang selama ini tertahan.

Rasa syukur itu terasa semakin dalam karena perjalanan menuju titik ini tidak mudah. Di akhir tahun 2020, saya mengambil keputusan besar untuk kembali ke Surabaya, meski saat itu belum ada kepastian apa pun. Tidak ada jaminan pekerjaan, tidak ada kepastian beasiswa, bahkan belum tahu apakah saya benar-benar bisa melanjutkan studi S2. Namun, keberanian itu muncul, dan saya memilih melangkah dengan penuh tawakal. Yang menguatkan saya saat itu adalah kemauan, semangat juang, optimisme, mimpi-mimpi saya, doa-doa, dan tentu saja dukungan orang tua. Dalam keterbatasan, saya belajar percaya bahwa selama niat baik dijaga, Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya. Alhamdulillah, satu demi satu, pintu itu akhirnya benar-benar terbuka.

Momen dinyatakan lolos LPDP benar-benar membuat hati ini menangis bahagia. Tangis itu seolah meluapkan semua lelah yang pernah ada. Saya teringat diri saya di masa-masa sebelumnya, merasa iba pada diri sendiri, meratap dalam diam, berjuang agar bisa lanjut S2 di tanah rantau. Hari-hari saya saat itu diisi dengan mengajar di TPQ, menjadi asisten riset dosen, dan tinggal di sebuah kosan kecil dan sempit dengan biaya Rp.225.000 per bulan, bersama teman seperjuangan saya sejak S1, Hotimah Novitasari (Novi).

Empat bulan proses seleksi itu benar-benar terasa sebagai rangkaian keajaiban. Kuasa Allah bekerja dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan. Studi S2 yang biaya SPP-nya saat itu mencapai Rp.8.500.000 per semester di Prodi Ilmu Linguistik Universitas Airlangga, akhirnya bisa saya tempuh tanpa harus memikirkan beban biaya, karena semuanya tercover oleh beasiswa LPDP.

Di setiap rasa syukur itu, saya selalu teringat pesan almarhum Ayah saya. Beliau adalah sosok yang sangat mendukung langkah saya untuk terus menuntut ilmu. Meski secara finansial orang tua saya belum sepenuhnya mampu jika harus membiayai studi secara mandiri, Ayah selalu meyakinkan saya agar tidak takut idak punya biaya, karena ada Allah yang Maha Kaya. Pesan itu terus hidup di hati saya. Semoga, setelah ini saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk lanjut studi S3. Amin.   

 

Catatan Perjalanan Hidup

Surabaya | 04 Januari 2026

 

Comments