BELAJAR, BERTUMBUH, DAN BERSYUKUR: CATATAN MENJADI ASISTEN RISET DAN AWAL TAHUN BARU

Belajar, Bertumbuh, dan Bersyukur: Catatan Menjadi Asisten Riset dan Awal Tahun Baru

Pada tahun 2021, tepatnya mulai bulan Mei, hidup saya memasuki satu fase baru yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Di masa itu, saya dipercaya menjadi Asisten Riset salah satu dosen saya semasa S1 di Prodi Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya, Ma’am Amiatun Nuryana, M.Pd, yang biasa saya panggil Ma’am Ana. Beliau adalah dosen mata kuliah Effective Listening yang saya kenal sebagai sosok yang baik, teliti, dan apresiatif.

Jujur saja, tahun 2021 adalah masa yang cukup penuh perjuangan dalam hidup saya. Saya sedang berada di fase memperjuangkan diri agar bisa melanjutkan studi S2. Saat itu, saya tinggal di Surabaya dan belum memiliki pekerjaan formal. Aktivitas rutin saya hanyalah mengajar di TPQ pada sore hari. Pagi hingga siang sering kali saya dengan membaca, menulis, dan mempersiapkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya.

Di tengah kondisi itulah, Allah menghadirkan kejutan kecil yang begitu berarti. Pada suatu hari di bulan Mei 2021, Ma’am Ana menghubungi saya melalui Facebook. Pesan beliau sederhana, tapi dampaknya luar biasa bagi saya. Beliau menyampaikan bahwa ada kesempatan bagi saya untuk membantu beliau sebagai Asisten Riset. Saat membaca pesan itu, saya merasa kaget, senang, dan tidak percaya.

Tanpa berpikir panjang, saya menerima tawaran tersebut dengan penuh rasa syukur. Menjadi Asisten Riset Ma’am Ana membuka pintu-pintu ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya untuk masa-masa selanjutnya. Saya mulai terlibat dalam proses riset, membaca dan merapikan data, membantu penulisan artikel ilmiah, hingga belajar tentang publikasi jurnal. Hari-hari saya yang sebelumnya cukup sepi, perlahan terisi dengan kegiatan yang bermakna.

Lebih dari sekadar membantu, fase ini seperti ruang belajar baru bagi saya. Saya kembali berhadapan dengan teori-teori linguistik, metodologi penelitian, dan diskusi akademik yang menantang sekaligus menyenangkan. Dalam hati, saya sering merasa bahwa inilah cara Allah mempersiapkan saya dan menguatkan bekal keilmuan sebelum benar-benar melangkah ke jenjang S2.

Setelah enam bulan saya membersamai proses riset bersama Ma’am Ana. Hingga tibalah awal tahun baru, tepatnya 1 Januari 2022. Di luar dugaan, Ma’am Ana mengajak saya untuk ikut refreshing ke Atlantis Land Surabaya. Sebuah ajakan sederhana, tapi bagi saya terasa sangat istimewa.

Itu adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Atlantis Land. Saya baru tahu bahwa di dalamnya ada banyak wahana bermain. Saya mencoba naik kuda putar, masuk ke rumah es yang dinginnya menusuk, melihat patung-patung lilin, dan menikmati suasana yang berbeda dari rutinitas harian saya. Setelah lelah bermain, kami makan bakso di tempat makan dekat kolam renang, ini adalah momen yang terasa hangat dan berkesan.

Saya benar-benar merasa bahagia dan bersyukur. Sebuah bonus liburan gratis di awal tahun, sesuatu yang hampir tidak pernah saya alami sebelumnya. Dari pengalaman menjadi Asisten Riset hingga momen sederhana di Atlantis Land, saya belajar satu hal: bahwa setiap proses perjuangan, sekecil apa pun, selalu disertai hadiah dari Allah, kadang berupa ilmu, kadang berupa pengalaman, dan kadang berupa kebahagiaan yang tak terduga.

 

Catatan Anak Rantau

Surabaya | 01 Januari 2026

Comments