DARI PROSES BERTUMBUH KE RUANG BERBAGI DI SEKOLAH MA DULU

 

Dari Proses Bertumbuh ke Ruang Berbagi di Sekolah MA Dulu
(Catatan tentang Perjalanan Panjang, Jatuh Bangun, dan Panggilan untuk Kembali Berbagi Cerita)

Pada tanggal 20 Desember 2025, ada sebuah pesan melalui WA dari sahabat saya sejak Madrasah Aliyah, Ufi, dia menghubungi saya dan bertanya, apakah saya berada di Sumenep pada tanggal 30 Desember. Saya menjawab apa adanya, bahwa saya berencana pulang kampung pada 24 Desember untuk liburan semester, lalu akan kembali ke Surabaya pada 28 Desember karena tanggal 29 saya sudah harus masuk mengajar kembali di sekolah. Lalu, pada 23 Desember 2025, Ufi kembali menghubungi saya dengan melampirkan sebuah surat resmi, sebuah undangan untuk menjadi Narasumber di Puncak Acara Creative Student Day (CSD) MA Nasy’atul Muta’allimin pada Sabtu, 27 Desember 2025.

MA Nasy’atul Muta’allimin bukan sekadar nama sekolah bagi saya. Ia adalah ruang tumbuh, tempat jatuh bangun, dan saksi awal mimpi-mimpi kecil saya. Sekolah ini yang dulu mengajarkan saya untuk berani mencoba, gagal, lalu bangkit lagi. Creative Student Day (CSD) sendiri bukan agenda asing. Saat saya masih MA, CSD sudah menjadi agenda tahunan setelah ujian semester ganjil. Isinya adalah lomba-lomba kreatif yang memberi ruang luas bagi siswa dan siswi untuk berekspresi. Jenis lombanya selalu berubah, sesuai kesepakatan panitia tiap tahunnya. Ketika saya masih menjadi peserta, lomba-lomba yang pernah ada antara lain lomba cipta puisi spontan, menulis esai, kerajinan tangan, hingga menghias taman sekolah. Saya dulu juga selalu mengikuti lomba-lomba pada saat CSD dan pernah menang. Puncak acaranya selalu menghadirkan sosok inspiratif yang membagikan kisah dan motivasi hidup. Dulu, saya duduk sebagai pendengar. Kini, saya diminta berdiri sebagai pencerita.

Jujur, rasa tidak percaya diri sempat muncul. Saya bertanya dalam hati, apa yang bisa saya sampaikan? Saya rasa tidak ada yang benar-benar terlihat “wah” dalam diri saya. Namun setelah berdiskusi dengan Ufi, saya memutuskan bahwa saya akan bercerita tentang proses yang pernah saya jalani, lalui, dan perjuangkan, bukan pencapaian semata. Saya percaya, kisah perjuangan yang jujur akan jauh lebih membumi dan tersampaikan. Maka saya menerima undangan itu dengan niat sederhana, semoga cerita hidup saya bisa memberi setidaknya secuil semangat yang berarti bagi adik-adik yang sedang bertumbuh.

Sabtu, 27 Desember 2025, saya kembali menginjakkan kaki di MA Nasy’atul Muta’allimin. Hati saya campur aduk. Saya bertemu kembali dengan Ufi, Mbak Uus (TU MA), Mbak Uli, Nyai Barrotus Sholihah (istri Alm. K.A. Munif Zubairi, Pengasush Yayasan saat saya MA) dan Mbak Wafiroh, co-narasumber saya hari itu. Mbak Wafiroh ternayata merupakan kakak kelas saya di MA. Ia melanjutkan S1 dan S2 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dan dikenal konsisten menulis hingga memiliki komunitas literasi sendiri. Bertemu dengannya membuat saya kembali mengingat mimpi lama untuk membangun komunitas menulis. Mimpi yang hingga kini masih saya simpan dan doakan agar suatu saat bisa terealisasi.

Sebelum masuk ke forum, saya berbincang cukup lama dengan Mbak Wafiroh dan Nyai Barrotus Sholihah di perpustakaan. Nyai Barro bagi saya adalah sosok yang selalu penuh apresiasi, semangat, dan suportif terhadap santri dan murid-muridnya. Bahkan ketika beliau mendengar saya mengikuti konferensi internasional di Thailand (Agustus 2023) dan Vietnam (Oktober 2023), beliau langsung menelepon saya untuk menanyakan kabar. Awalnya saya heran melihat nomor baru yang masuk, namun setelah saya angkat, suara hangat itu langsung saya kenali. Sebuah perhatian yang tidak pernah saya sangka, tapi sangat menguatkan.

Sebelum acara dimulai, saya juga bertemu kembali dengan Kak F. Rizal Alief, guru puisi saya sejak MI; Pak Hari, guru saya saat MA; dan Bu Diana, guru Bahasa Inggris saya. Bertemu kembali dengan para guru di tempat yang sama membuat saya sadar, bahwa perjalanan saya hari ini tidak pernah berdiri sendiri.

Acara dibuka dengan opening ceremonial, lalu dilanjutkan Seminar Motivasi. Saya mendapat giliran pertama menyampaikan materi setelah moderator memperkenalkan CV saya. Materi itu saya siapkan sejak semalam, lengkap dengan PPT yang berjudul: “Consistency, Writing, and the Power of Process Leading to Great Opportunities.” Saya membuka materi dengan memperkenalkan aktivitas saya saat ini, sebagai Muwajjihah Li at-Tholabah di Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tetap di IKIP Widya Darma Surabaya, serta Guru Tidak Tetap Bahasa Inggris di SMA Al Hikmah Surabaya.

Setelah itu, saya menyinggung latar pendidikan saya, bahwa saya juga pernah duduk di bangku MA Nasy’atul Muta’allimin, sama seperti mereka. Saya ingin para siswi tahu bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang sama, dengan keraguan dan keterbatasan yang juga mereka rasakan hari ini. Semua mimpi akan terwujud asal kita benar-benar memperjuangkan untuk mewujudkannya.

Saya kemudian bercerita tentang kecintaan saya pada dunia puisi sejak kecil, berawal dari kegemaran membaca dan mengikuti lomba baca puisi, hingga akhirnya mencoba menulis puisi sejak kelas VII MTs. Saat itu, saya juga aktif di berbagai komunitas literasi sekolah seperti Sanggar 7 Kejora, Bengkel Sastra, Rumah Senja, dan komunitas desa yaitu Komunitas Kobhung.

Sejak MTs, saya juga sering menjadi delegasi lomba. Dari Juara Harapan hingga Juara 1, semua saya ceritakan bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk menunjukkan bahwa proses kecil yang konsisten bisa membuka jalan besar, termasuk mengantarkan saya masuk MA melalui jalur prestasi. Kelas VII: Juara Harapan 2 Lomba Baca Puisi Se-Kabupaten Sumenep (Setengah Abad PP Nasy’atul Muta’allimin). Kelas VIII: Juara Harapan 2 Lomba Baca Puisi Se-Kabupaten Sumenep (Dies Natalis Yayasan Kariman Braji). Kelas IX: Juara 1 Lomba Cipta Puisi Festival Lomba Se-Timur Daya Kecamatan Gapura (Organisasi K5).

Di MA, saya kembali menjadi delegasi lomba. Kelas X: Juara 2 Lomba Cipta & Baca Puisi Se-Madura (Aryaseda II, Universitas Wiraraja). Kelas XI: Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kandungan Al-Qur’an (AKSIOMA Se-Kabupaten Sumenep). Kelas XII: Juara Harapan 1 Lomba Baca Puisi Bahasa Madura (Gebyar Lomba Desa HUT RI ke-70). Sertifikat prestasi inilah yang saya lampirkan dalam pendaftaran masuk PTN melalui SNMPTN hingga akhirnya saya lolos seleksi dan diterima di UIN Sunan Ampel Surabaya pada prodi Sastra Inggris yang merupakan pilihan pertama saya.

Saya juga lanjut bercerita bahwa saat kuliah S1, saya belajar membangun manajemen waktu dengan prinsip Be a Good Planner, Be a Good Executor. Saya juga masih terus aktif mengikuti lomba cipta dan baca puisi di tingkat nasional hingga meraih beberapa penghargaan, yang kemudian mengantarkan saya menjadi salah satu wisudawan terbaik di bidang non-akademik tahun 2020. Saat S1 saya meraih Juara 2 Cipta Puisi Nasional (Competition of Cendekia 2016, Unsri), Juara 1 Cipta Baca Puisi Islami (ISEF 2019, UNAIR), Juara 2 Cipta Puisi Hari Santri Nasional 2019 (PP Al-Masyhad Pekalongan), dan Juara 3 Cipta Puisi Nasional ke-7 (Tulis.me).

Lalu, saya menekankan bahwa kebiasaan menulis harus didahului dengan banyak membaca. Membaca buku, situasi, berita, dan alam sekitar. Jika membaca buku, maka lahap habis semua buku fiksi dan non-fiksi. Buku fiksi membangun rasa, empati, daya imajinasi, dan kreativitas. Sedangkan Non-fiksi membangun pengetahuan & berpikir kritis. Saya juga mengutip pesan K.A. Dardiri Zubairi (Kepala Sekolah saat saya MA dulu: “Karya besar terkadang muncul dari gagasan kecil, tetapi karya kecil tidak akan lahir tanpa kemauan besar.”

Saya melanjutkan cerita pasca-S1, di mana saya menjadi Research Assistant (2021–2022) dan berhasil mempublikasikan artikel “Muslim Women Representation in Zoya Hijab Video Advertisement” di NOBEL Journal (Sinta 3, April 2021). Artikel ini saya masukkan dalam list karya tulis ilmiah saya pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2021 dan berkat artikel tersebut juga membuat saya bisa daftar S2 di Universitas Airlangga melalui Jalur Non-Tes (Portofolio) di tahun 2022. Kemudian saya juga bercerita kisah saya saat daftar beasiswa LPDP di tahun 2021 pada bulan Mei, yang mana saya harus melalui 3 tahapan seleksi, yaitu administrasi, tes bakat skolastik, dan wawancara, hingga Alhamdulillah saya lolos dan diterima sebagai salah satu awardee pada Agustus 2021. Lalu, Maret 2022 mendaftar S2 UNAIR. Agustus 2022 resmi mulai kuliah S2 di UNAIR dengan beasiswa LPDP.

Dan saya juga bercerita bahwa saat S2, saya mengikuti konferensi internasional. Pertama, di Thailand, Seminar Antarabangsa Susastera, Bahasa, dan Budaya Nusantara (SUTERA) ke-2 di Thaksin University, Agustus 2023, yang mana konferensi di Thailand ini didanai oleh Universitas Airlangga.. Artikel saya untuk prosiding seminar di Thailand berjudul “Male-Female Javanese and Madurese Differences: Language and Gender Study”.  Kedua, International Conference on Social Sciences and Humanitie di Vietnam (ICSSH 2023) di Vietnam National University, Ho Chi Minh City., yang didanai oleh LPDP. Artikel saya untuk prosiding seminar di Vietnam berjudul “Analysis of Language Employed in Airlangga University Libraries: A Linguistic Landscape Study”.

Lalu, saya juga bercerita bahwa sebelum saya lulus S2, syarat agar bisa melakukan sidang tesis adalah harus sudah memiliki publikasi artikel di jurnal nasional minimal Sinta 4. Sedangkan artikel saya diterima dan terbit di jurnal internasional Scopus Q1 Cogent Arts & Humanities (Taylor & Francis, 2023). Hingga mendapatkan apresiasi dari dosen dan saya bisa lulus tepat waktu. Pada September 2025, saya juga terpilih sebagai peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta, setelah melewati proses kurasi karya puisi, sebuah fase penting yang menegaskan bahwa dunia menulis masih terus membersamai hidup saya.

Saya menutup materi dengan menghighlight The Power of Writing. bahwa semua pencapaian saya berawal dari menulis dan tidak lepas dari dunia menulis. Tulisan membuka pintu pendidikan, beasiswa, dan panggung internasional bagi diri saya. Maka saya mengajak para siswi untuk Dream, Write, Act, and Pray. Karena kita akan memanen apa yang kita tanam. Dan setiap kesempatan besar selalu lahir dari proses panjang yang dijalani dengan sabar, konsisten, dan penuh doa.  

 

Catatan Perjalanan Hidup

Surabaya | 03 Januari 2026

Comments