DARI ASISTEN DOSEN HINGGA MENJADI DOSEN TETAP (BAGIAN CATATAN HIDUP SETELAH LULUS S2)


Dari Asisten Riset Hingga Menjadi Dosen Tetap

(Bagian Catatan Hidup Setelah Lulus S2)

Setelah saya lulus S2 pada tahun 2024, tepatnya di bulan September, hidup saya kembali memasuki fase transisi. Fase di mana euforia kelulusan perlahan berganti dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana namun berat: setelah ini, saya akan menjalani hari sebagai apa? Di tengah pencarian itu, Allah kembali menghadirkan Ma’am Ana, sosok dosen yang sejak S1 selalu hadir di fase-fase penting hidup saya. Tidak lama setelah kelulusan, saya kembali dihubungi oleh Ma’am Ana. Beliau menawarkan saya untuk kembali menjadi Asisten Riset beliau. Tanpa berpikir panjang, tawaran itu langsung saya terima. Bagi saya, bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tentang keberlanjutan proses belajar dan kebermanfaatan diri setelah menyelesaikan studi S2.

Saya pun kembali menjalani peran sebagai Asisten Riset selama kurang lebih enam bulan. Hari-hari saya diisi dengan aktivitas riset, membaca, menata data, membantu proses akademik, dan kembali bersentuhan dengan dunia ilmiah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar saya tinggalkan. Sampai akhirnya, pada bulan Maret 2025, saya harus off karena Ma’am Ana mulai fokus pada pengerjaan disertasi dan tanggung jawab akademik lainnya.

Masa off itu membawa saya kembali ke fase menunggu. Saya mulai kembali berpikir tentang masa depan, terutama soal pekerjaan. Dalam hati, saya tahu saya tidak bisa berdiam diri terlalu lama. Maka saya mulai membuka kemungkinan-kemungkinan lain, termasuk melamar sebagai guru Bahasa Inggris di beberapa sekolah di Surabaya. Dengan penuh harap, saya mengirim CV, surat lamaran, dan dokumen-dokumen pendukung ke beberapa sekolah. Saya tidak menyebutkan nama-nama sekolah tersebut di sini, biarlah menjadi cerita pribadi antara saya dan proses yang saya jalani. Yang jelas, setiap lamaran dikirim dengan doa dan keyakinan bahwa Allah pasti tahu jalan terbaik. Namun, hari demi hari berlalu. Satu minggu, dua minggu, bahkan lebih, belum ada satu pun panggilan wawancara yang saya terima. Hasilnya nihil. Tidak ada kabar. Tidak ada respon. Saya mencoba menenangkan diri, meski di dalam hati ada rasa lelah dan sedikit kecewa yang tidak bisa dipungkiri.

Di saat itulah, ketika saya sudah mulai menyusun rencana untuk mengantar CV langsung ke kampus-kampus swasta di Surabaya, sebuah pesan kembali datang dari Ma’am Ana. Pesan itu benar-benar mengejutkan saya. Beliau mengabarkan bahwa ada lowongan dosen tetap S1 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Widya Darma Surabaya. Saya membaca pesan itu berulang kali. Rasanya seperti dijatuhi rezeki dari langit. Padahal, saya sedang dalam fase mencari, mengetuk pintu ke sana kemari, dan hampir mengeksekusi rencana untuk drop CV. Tapi Allah mendahului semua rencana itu dengan cara-Nya sendiri.

Alhamdulillah, proses pun berjalan. Hingga akhirnya, sejak Agustus 2025, saya resmi diterima sebagai dosen tetap di IKIP Widya Darma Surabaya. Dan mulai September 2025, saya resmi mengajar. Sebuah peran baru yang tidak pernah saya bayangkan akan datang secepat ini setelah lulus S2. Pada semester gasal, sebagai pengalaman pertama mengajar, saya diamanahi dua mata kuliah: Introduction to Linguistics untuk mahasiswa semester 3 dan Sociolinguistics untuk mahasiswa semester 7. Amanah ini terasa besar, tapi sekaligus menumbuhkan semangat baru dalam diri saya. Proses mengajarnya pun dilakukan secara online, setiap hari Minggu. Pukul 11.00–12.00 untuk mata kuliah Sociolinguistics, dan dilanjutkan pukul 13.00–14.00 untuk Introduction to Linguistics. Hari Minggu yang biasanya saya gunakan untuk beristirahat, kini menjadi hari belajar dan berbagi.

Saya baru benar-benar memahami bahwa ternayata sistem perkuliahan di IKIP Widya Darma mirip dengan Universitas Terbuka. Mahasiswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Sebagian besar adalah pekerja, yang hanya memiliki waktu kuliah di akhir pekan. Ada yang bekerja di Jepang, ada pramugari, ada yang di Timor Leste, ada pula yang berasal dari Sumatera, Jawa Barat, Jawa tengah, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya. Yang membuat saya tersenyum sendiri, mayoritas mahasiswa saya usianya jauh lebih dewasa dari saya. Sudah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Tapi justru di situlah saya belajar tentang kerendahan hati, saling menghargai, dan arti menjadi fasilitator belajar, bukan sekadar pengajar. Saya menikmati proses ini. Meski mengajar secara online, saya benar-benar mempersiapkan diri. Saya belajar ulang materi, menyusun PPT, membaca kembali buku-buku linguistik, dan memastikan apa yang saya sampaikan bisa dipahami dengan baik. Ini tantangan baru, dan saya bersyukur bisa mengalaminya.

Sejujurnya, dalam hati saya masih menyimpan mimpi besar: menjadi dosen di kampus negeri dan menjadi PNS, mengajar langsung di ruang kelas. Namun karena pendaftaran CPNS tahun 2025 tidak dibuka, saya memilih untuk tidak larut dalam penantian tanpa aktivitas. Saya memilih bergerak, belajar, dan mengumpulkan pengalaman. Tawaran ini saya terima bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai proses. Jika kelak CPNS dibuka, setidaknya saya sudah memiliki bekal pengalaman mengajar mahasiswa. Dan jika Allah mengizinkan saya memegang keduanya, saya tidak akan meninggalkan IKIP Widya Darma. Namun jika harus memilih, saya akan melepas dengan rasa terima kasih yang sangat besar.

Inti dari cerita ini adalah satu: setelah lulus S2, saya kembali menjadi Asisten Riset, lalu off, dan tanpa saya duga, Allah menghadirkan kejutan berupa amanah menjadi dosen tetap. Sebuah alur hidup yang tidak pernah saya rancang, tapi selalu terasa tepat.

Pada bulan Oktober 2025, saya kembali mendapatkan pengalaman berharga bersama keluarga besar dosen IKIP Widya Darma Surabaya melalui kegiatan Inspirational Journey ke Semarang yang dilaksanakan pada 25–26 Oktober 2025. Saya merasa bahagia karena dilibatkan sebagai bagian dari keluarga besar ini.

Hari Pertama: Menyusuri Jejak Sejarah dan Merayakan Kebersamaan

Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, hari itu dimulai lebih awal dari biasanya. Pukul 05.30, kami sudah berkumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya. Udara pagi masih terasa dingin, wajah-wajah panitia dan dosen tampak penuh antusias. Ada obrolan ringan, tawa kecil, dan semangat perjalanan yang perlahan tumbuh. Tepat sekitar pukul 06.00, bus mulai melaju meninggalkan Surabaya menuju Semarang, membawa kami pada perjalanan yang bukan sekadar wisata, tetapi juga kebersamaan. Perjalanan cukup panjang, namun terasa ringan karena diisi dengan canda, cerita, dan sesekali kami menikmati pemandangan jalan tol yang memanjang. Sekitar pukul 11.00, kami berhenti untuk ishoma di Masjid Agung Jawa Tengah RM Istami. Masjid ini megah dan menenangkan. Kami menunaikan salat, beristirahat sejenak, dan mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Di sela waktu itu, saya menikmati momen hening, bersyukur karena bisa berada di titik hidup sejauh ini.

Pukul 12.00, perjalanan dilanjutkan menuju Lawang Sewu. Sekitar pukul 12.30, akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di tempat yang sejak lama hanya saya lihat lewat foto dan cerita orang-orang. Lawang Sewu. Bangunan tua yang sarat sejarah itu berdiri kokoh, megah, dan terasa penuh kisah. Selama kurang lebih satu setengah jam, kami menyusuri lorong-lorongnya, menaiki tangga, berfoto di pintu-pintu ikoniknya, dan mendengarkan cerita sejarah yang membuat saya semakin kagum. Dalam hati saya berbisik, “Alhamdulillah, akhirnya.”

Sekitar pukul 14.00, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Lama Semarang. Pukul 14.30 hingga 15.30, kami berjalan santai menyusuri kawasan Kota Lama dengan bangunan-bangunan kolonial yang estetik. Banyak sudut yang terasa sangat fotogenik. Saya menikmati suasana sore, cahaya matahari yang lembut, dan kebersamaan yang terasa akrab. Rasanya seperti sedang berjalan di ruang waktu yang membawa saya ke masa lalu.

Pukul 15.00, kami check-in di Trizz Hotel, hotel bintang tiga yang nyaman dan bersih. Setelah beristirahat sejenak, malam harinya sekitar pukul 18.00, kami kembali berkumpul untuk gala dinner. Makan malam berlangsung hangat dan penuh tawa. Ada sambutan, obrolan ringan, dan sesi doorprize yang membuat suasana semakin hidup. Saya tidak menyangka akan mendapatkan doorprize berupa wadah kotak makan warna hijau. Barang sederhana, tapi entah kenapa membuat saya senang sekali. Malam itu ditutup sekitar pukul 21.00 dengan perasaan hangat dan bahagia.

Hari Kedua: Oleh-Oleh, Tawa, dan Kenangan yang Dibawa Pulang

Hari Minggu, 26 Oktober 2025, dimulai dengan suasana yang lebih santai. Pukul 07.00 pagi, kami sarapan bersama di resto hotel. Pagi itu terasa tenang. Ada obrolan ringan sambil menikmati sarapan, seolah kami semua sedang mengumpulkan energi terakhir sebelum pulang. Pukul 09.00, kami check-out dari hotel dan langsung menuju pusat oleh-oleh Benang Ratu. Sekitar pukul 09.30 hingga 10.30, saya berkeliling mencari pernak-pernik. Saya membeli jepit rambut untuk keponakan saya, belt mutiara, dan sebuah tas untuk saya sendiri. Sebenarnya saya ingin membeli baju batik, tapi hampir semua ukurannya kebesaran. Tidak ada yang benar-benar pas untuk saya, jadi saya mengurungkan niat itu.

Perjalanan dilanjutkan menuju pusat oleh-oleh makanan Lidulapa. Kami berbelanja hingga sekitar pukul 11.30. Di sini saya membeli kerupuk makaroni untuk teman-teman di asrama, kue leker, dan keripik ubi ungu. Rasanya menyenangkan bisa membeli sesuatu untuk orang-orang yang saya sayangi, meski sederhana.

Setelah itu, kami menuju Dusun Semilir. Sekitar pukul 12.30, kami makan siang terlebih dahulu di Resto Semilir. Suasananya ramai namun menyenangkan. Setelah makan, kami mulai berkeliling kawasan wisata Dusun Semilir hingga pukul 15.00. Saya berkesempatan naik mobil golf bersama pimpinan IKIP Widya Darma untuk berkeliling area. Saya menikmati pemandangan, suasana wisata, dan tawa yang mengalir begitu saja. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat mencoba prosotan pelangi. Jujur, awalnya saya cukup takut karena tingginya lumayan membuat jantung berdegup lebih cepat. Tapi dengan sedikit keberanian, saya akhirnya meluncur dan alhamdulillah, sampai bawah dengan selamat. Deg-degan, tapi seru.

Tentu saja, setiap tempat yang kami datangi tidak lepas dari sesi foto-foto. Bagi saya, foto bukan hanya soal dokumentasi, tapi cara menyimpan kenangan. Karena kelak, ketika lelah atau rindu, foto-foto itulah yang akan mengingatkan bahwa saya pernah ada di fase ini, bersama orang-orang baik.

Sekitar pukul 15.00, perjalanan kembali ke Surabaya dimulai. Bus melaju perlahan, suasana di dalam bus lebih tenang. Banyak yang tertidur, sebagian memandangi jalan, sebagian lagi masih berbincang pelan. Tepat sekitar pukul 20.00 malam, kami tiba kembali di Surabaya. Lelah, tapi hati terasa penuh.

Perjalanan ini bukan sekadar wisata. Ia menjadi penutup yang manis dari rangkaian proses, kerja, dan perjuangan. Sebuah pengingat bahwa di sela-sela tanggung jawab, Allah selalu menyelipkan hadiah berupa kebersamaan, tawa, dan kenangan.

 

Catatan Anak Rantau

Surabaya | 02 Januari 2026

Comments