DARI SUMENEP KE SURABAYA: PERSAHABATAN SAYA DAN INA YANG TAK PERNAH USAI


Dari Sumenep ke Surabaya: Persahabatan Saya dan Ina yang Tak Pernah Usai

(Teman Sealmamater from UIN Sunan Ampel to Universitas Airlangga)

Saya masih ingat betul tahun 2016, pertama kali saya menginjakkan kaki sebagai mahasiswi baru di UIN Sunan Ampel Surabaya. Tahun yang menjadi titik awal banyak cerita hidup saya terukir. Salah satunya adalah pertemuan yang tidak pernah saya sangka akan menjadi pertemanan jangka panjang: saya dan Inayah Ilahiyyah. Saya biasanya memanggilnya dengan panggilan akrab “Ina” atau “Inya”. Kami sama-sama berasal dari Sumenep. Sama-sama anak rantau yang memilih berproses di kota pahlawan ini. Kami juga sama-sama tinggal di Pesantren Mahasiswi UIN Sunan Ampel di semester pertama dan kedua kuliah kami. Hanya saja, kami berada di fakultas dan jurusan yang berbeda.

Saya kuliah di Fakultas Adab dan Humaniora, jurusan Sastra Inggris. Sedangkan Inayah, ia adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, jurusan Manajemen. Pertemuan pertama kami sangat sederhana, tapi berkesan. Kala itu, saya sedang ada di depan kamar mandi asrama, tepatnya di area jemuran, dan dia menyapa lebih dulu. Saya bahkan lupa persisnya apa yang kami bicarakan, tapi percakapan itulah akhirnya yang membuat kami tahu bahwa kami berasal dari daerah yang sama: Sumenep.

Sejak saat itu, entah bagaimana, kami jadi lebih sering berinteraksi. Mungkin karena kesamaan asal, mungkin karena kami sama-sama sedang belajar menyesuaikan diri di tempat baru. Saya masih ingat bagaimana Inayah beberapa kali membantu saya di masa-masa awal perkuliahan. Salah satunya adalah ketika saya belum memiliki laptop pribadi. Untuk mengerjakan tugas, saya biasanya mengerjakan di warnet. Tapi di saat-saat tertentu, saya beberapa kali meminjam laptop Inayah. Ia dengan senang hati meminjamkannya. Tanpa syarat, tanpa sungkan.

Alhamdulillah, di semester tiga, saya bisa membeli laptop sendiri dari uang beasiswa yang saya terima. Tapi rasa terima kasih kepada Inayah tak pernah luntur. Karena di masa saya butuh bantuan, dia ada. Dia seperti oase di padang gersang perantauan. Bahkan, karena kedekatan kami, Ibu saya yang biasanya mengunjungi Surabaya setiap bulan untuk mengantar beras dan kebutuhan lainnya, kadang menitipkannya lewat orang tua Inayah. Atau ketika Inayah pulang kampung dan saya tidak, ia membawakan titipan dari orang tua saya.

Saya tidak pernah menyangka, bahwa pertemanan yang berawal dari sapa di depan kamar mandi asrama bisa terus bertahan selama ini. Kami bukan tipe yang sering menyapa tiap hari. Tidak selalu intens berkomunikasi. Tapi kami selalu terhubung dalam momen-momen penting, atau ketika hati saling rindu dan butuh tempat bertukar cerita (Ciyeh. Asiek). Bahkan di tahun kedua kuliah, meskipun sudah tidak satu lingkungan lagi (Saya lanjut tinggal di asrama menjadi pengurus, sedangkan dia ngekos di belakang kampus UINSA), saat bertemu pun rasanya tetap sama. Hangat. Akrab. Tak ada yang berubah.

Inayah lulus lebih dulu dari saya, di bulan Januari 2020 kalau tidak salah ingat. Sedangkan saya menyusul di bulan Juni 2020, di tengah pandemi covid-19. Setelah lulus, Inayah langsung melanjutkan studi S2-nya di UNESA, tetap di jurusan Manajemen. Sedangkan saya, saat itu masih menanti kesempatan beasiswa. Alhamdulillah, Agustus 2021 saya dinyatakan lolos beasiswa LPDP, dan mulai menempuh studi S2 Linguistik di UNAIR pada Agustus 2022. Lalu, betapa mengejutkannya ketika saya tahu bahwa Inayah melanjutkan studi S3-nya di UNAIR juga pada tahun 2024, pada saat saya semester 4. Rasanya seperti dipertemukan kembali oleh semesta, di almamater yang sama.

Tapi, dari semua cerita kebersamaan itu, ada satu hal yang sempat membuat saya sedih. Saat ia menikah, saya tidak diundang. Bahkan tidak diberi kabar apa pun. Kalau tidak dari Ibu saya yang mendapat informasi dari temannya Ibu, mungkin saya tidak akan tahu bahwa sahabat saya itu sudah menikah. Kalau tidak salah, ia menikah di akhir tahun 2020 atau awal 2021, saat pandemi masih cukup mencekam. Memang, ia sempat bertanya pada saya di WA terkait posisi saya ada di mana waktu itu. Saya jawab sedang di Surabaya. Mungkin karena itu, dan karena konsep acaranya intimate serta pertimbangan pandemi, saya tidak termasuk dalam daftar undangan.

Saat saya mengonfirmasi kabar pernikahannya lewat chat, ia pun mengakui dan mengirimkan foto dekorasi pernikahannya. Rasanya, agak nyesek sih. Saya sedih, merasa tidak dianggap. Sahabat yang saya kenal sejak awal kuliah, yang pernah saling bantu dan berbagi, ternyata tidak menganggap saya cukup penting untuk dikabari di hari bahagianya. Tapi, setelah merenung, saya memilih untuk tidak terlalu mengambil hati. Saya tahu, masing-masing orang punya alasan dan pertimbangan sendiri. Mungkin itu adalah keputusannya yang terbaik waktu itu.

Dan ternyata benar. Setelah menikah dan pindah ke rumah suaminya di Sidoarjo, Inayah kembali menghubungi saya. Ia bilang ingin bertemu. Saya menyambut ajakan itu. Ia datang ke kos saya, dan kami berbincang panjang seperti dulu. Bahkan setelah itu, kami sering pergi bersama. Ke tempat-tempat yang bagus, indah, dan tentu saja instagramable di Surabaya. Tawa kami kembali lepas. Cerita kami kembali bersambung. Tak lagi ada jarak, tak ada ganjalan.

Pertemanan ini pun terus berlanjut. Sejak tahun 2022 saya pindah lagi ke Pesantren Mahasiswi UINSA menjadi Muwajjihah, Inayah juga sering main ke asrama saya. Saya pun sesekali mengunjunginya ke rumahnya di Sidoarjo. Kami berbagi banyak hal, mulai dari persoalan akademik, urusan hati, sampai obrolan filosofis tentang kehidupan yang penuh liku. Kadang kami saling curhat, saling menyemangati, atau hanya sekadar duduk diam dalam kebersamaan yang hangat.

Saya belajar banyak dari pertemanan ini. Bahwa waktu dan jarak bisa saja membuat komunikasi tidak rutin, tapi tidak akan pernah memutuskan hubungan yang tulus. Bahwa pertemanan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertukar kabar, tapi dari seberapa dalam keterikatan hati saat akhirnya bertemu lagi. Inayah adalah salah satu bukti nyata, bahwa teman seperjalanan tidak selalu ada di setiap langkah, tapi selalu hadir di persimpangan penting kehidupan.

Kini, meski masing-masing kami disibukkan dengan urusan pribadi masing-masing, studi, pekerjaan, dan mimpi-mimpi yang terus dikejar, tetap saja ada ruang dalam hati untuk saling mengingat. Setidaknya, ketika ada cerita baru, satu sama lain tahu kepada siapa cerita itu bisa dibagi. Ketika sedang berat, tahu ke mana harus menepi. Dan ketika sedang bahagia, tahu kepada siapa kebahagiaan itu bisa diceritakan tanpa takut dibandingkan.

Saya bersyukur, bisa mengenal sosok seperti Inayah. Dalam diam dan dalam sapa, ia tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Sebuah nama yang akan tetap saya ceritakan kepada masa depan, bahwa saya pernah punya teman baik yang bertahan sejauh ini. Meskipun jalan kami tak selalu beriringan, tapi kami tetap saling menengok dan saling menyemangati. Mungkin itulah bentuk kasih sayang yang tumbuh dari ketulusan pertemuan pertama, yang bahkan terjadi di depan kamar mandi sebuah asrama.

Alhamdulillah, setelah cukup lama menanti kehadiran buah hati, akhirnya di tahun 2025, doa-doa Inayah dikabulkan oleh Allah. Ia melahirkan anak perempuan pertamanya pada tanggal 23 Januari 2025. Saya masih ingat betul malam itu, sekitar tengah malam setelah proses persalinan, ia langsung mengabari saya lewat pesan singkat di WA. Saat saya melihat foto bayi mungil itu, hati saya langsung terasa ikut senang. Ada haru, ada senyum, ada rasa syukur yang entah bagaimana ikut mengalir dalam dada saya. Anak itu begitu cantik, secantik ibunya. Sosok kecil yang telah lama didambakan oleh Inayah sejak ia mengarungi kehidupan rumah tangga.

Saya merasa menjadi saksi perjalanan hidupnya, dari yang sibuk kuliah, lalu meniti karier akademik, hingga kini menjadi seorang ibu. Bahkan, saking girangnya saya menyambut kabar kelahiran itu, saya sempat menggoda Inayah lewat candaan ringan, “Anakmu nanti dijodohkan aja sama anak saya, ya,” (Wkwkwk). Dalam hati saya pun berdoa, semoga kelak saya juga diberi rezeki serupa. Hmb, hidup ini memang penuh kejutan indah yang tak pernah kita duga.

 

Catatan Anak Rantau

Surabaya | 20 April 2025






 


Comments