DARI SUMENEP KE SURABAYA: PERSAHABATAN SAYA DAN INA YANG TAK PERNAH USAI
Dari
Sumenep ke Surabaya: Persahabatan Saya dan Ina yang Tak Pernah Usai
(Teman
Sealmamater from UIN Sunan Ampel to Universitas Airlangga)
Saya kuliah di Fakultas Adab dan Humaniora, jurusan Sastra
Inggris. Sedangkan Inayah, ia adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Islam, jurusan Manajemen. Pertemuan pertama kami sangat sederhana, tapi
berkesan. Kala itu, saya sedang ada di depan kamar mandi asrama, tepatnya di
area jemuran, dan dia menyapa lebih dulu. Saya bahkan lupa persisnya apa yang
kami bicarakan, tapi percakapan itulah akhirnya yang membuat kami tahu bahwa
kami berasal dari daerah yang sama: Sumenep.
Sejak saat itu, entah bagaimana, kami jadi lebih sering
berinteraksi. Mungkin karena kesamaan asal, mungkin karena kami sama-sama
sedang belajar menyesuaikan diri di tempat baru. Saya masih ingat bagaimana
Inayah beberapa kali membantu saya di masa-masa awal perkuliahan. Salah satunya
adalah ketika saya belum memiliki laptop pribadi. Untuk mengerjakan tugas, saya
biasanya mengerjakan di warnet. Tapi di saat-saat tertentu, saya beberapa kali
meminjam laptop Inayah. Ia dengan senang hati meminjamkannya. Tanpa syarat,
tanpa sungkan.
Alhamdulillah, di semester tiga, saya bisa membeli laptop
sendiri dari uang beasiswa yang saya terima. Tapi rasa terima kasih kepada
Inayah tak pernah luntur. Karena di masa saya butuh bantuan, dia ada. Dia
seperti oase di padang gersang perantauan. Bahkan, karena kedekatan kami, Ibu
saya yang biasanya mengunjungi Surabaya setiap bulan untuk mengantar beras dan
kebutuhan lainnya, kadang menitipkannya lewat orang tua Inayah. Atau ketika
Inayah pulang kampung dan saya tidak, ia membawakan titipan dari orang tua
saya.
Saya tidak pernah menyangka, bahwa pertemanan yang berawal
dari sapa di depan kamar mandi asrama bisa terus bertahan selama ini. Kami
bukan tipe yang sering menyapa tiap hari. Tidak selalu intens berkomunikasi.
Tapi kami selalu terhubung dalam momen-momen penting, atau ketika hati saling
rindu dan butuh tempat bertukar cerita (Ciyeh. Asiek). Bahkan di tahun kedua
kuliah, meskipun sudah tidak satu lingkungan lagi (Saya lanjut tinggal di
asrama menjadi pengurus, sedangkan dia ngekos di belakang kampus UINSA), saat
bertemu pun rasanya tetap sama. Hangat. Akrab. Tak ada yang berubah.
Inayah lulus lebih dulu dari saya, di bulan Januari 2020
kalau tidak salah ingat. Sedangkan saya menyusul di bulan Juni 2020, di tengah
pandemi covid-19. Setelah lulus, Inayah langsung melanjutkan studi S2-nya di
UNESA, tetap di jurusan Manajemen. Sedangkan saya, saat itu masih menanti
kesempatan beasiswa. Alhamdulillah, Agustus 2021 saya dinyatakan lolos beasiswa
LPDP, dan mulai menempuh studi S2 Linguistik di UNAIR pada Agustus 2022. Lalu,
betapa mengejutkannya ketika saya tahu bahwa Inayah melanjutkan studi S3-nya di
UNAIR juga pada tahun 2024, pada saat saya semester 4. Rasanya seperti
dipertemukan kembali oleh semesta, di almamater yang sama.
Tapi, dari semua cerita kebersamaan itu, ada satu hal yang
sempat membuat saya sedih. Saat ia menikah, saya tidak diundang. Bahkan tidak
diberi kabar apa pun. Kalau tidak dari Ibu saya yang mendapat informasi dari
temannya Ibu, mungkin saya tidak akan tahu bahwa sahabat saya itu sudah
menikah. Kalau tidak salah, ia menikah di akhir tahun 2020 atau awal 2021, saat
pandemi masih cukup mencekam. Memang, ia sempat bertanya pada saya di WA
terkait posisi saya ada di mana waktu itu. Saya jawab sedang di Surabaya.
Mungkin karena itu, dan karena konsep acaranya intimate serta pertimbangan
pandemi, saya tidak termasuk dalam daftar undangan.
Saat saya mengonfirmasi kabar pernikahannya lewat chat, ia
pun mengakui dan mengirimkan foto dekorasi pernikahannya. Rasanya, agak nyesek
sih. Saya sedih, merasa tidak dianggap. Sahabat yang saya kenal sejak awal
kuliah, yang pernah saling bantu dan berbagi, ternyata tidak menganggap saya
cukup penting untuk dikabari di hari bahagianya. Tapi, setelah merenung, saya
memilih untuk tidak terlalu mengambil hati. Saya tahu, masing-masing orang
punya alasan dan pertimbangan sendiri. Mungkin itu adalah keputusannya yang
terbaik waktu itu.
Dan ternyata benar. Setelah menikah dan pindah ke rumah
suaminya di Sidoarjo, Inayah kembali menghubungi saya. Ia bilang ingin bertemu.
Saya menyambut ajakan itu. Ia datang ke kos saya, dan kami berbincang panjang
seperti dulu. Bahkan setelah itu, kami sering pergi bersama. Ke tempat-tempat
yang bagus, indah, dan tentu saja instagramable di Surabaya. Tawa kami kembali
lepas. Cerita kami kembali bersambung. Tak lagi ada jarak, tak ada ganjalan.
Pertemanan ini pun terus berlanjut. Sejak tahun 2022 saya
pindah lagi ke Pesantren Mahasiswi UINSA menjadi Muwajjihah, Inayah juga sering
main ke asrama saya. Saya pun sesekali mengunjunginya ke rumahnya di Sidoarjo. Kami
berbagi banyak hal, mulai dari persoalan akademik, urusan hati, sampai obrolan
filosofis tentang kehidupan yang penuh liku. Kadang kami saling curhat, saling
menyemangati, atau hanya sekadar duduk diam dalam kebersamaan yang hangat.
Saya belajar banyak dari pertemanan ini. Bahwa waktu dan
jarak bisa saja membuat komunikasi tidak rutin, tapi tidak akan pernah
memutuskan hubungan yang tulus. Bahwa pertemanan sejati tidak diukur dari
seberapa sering bertukar kabar, tapi dari seberapa dalam keterikatan hati saat
akhirnya bertemu lagi. Inayah adalah salah satu bukti nyata, bahwa teman
seperjalanan tidak selalu ada di setiap langkah, tapi selalu hadir di
persimpangan penting kehidupan.
Kini, meski masing-masing kami disibukkan dengan urusan pribadi
masing-masing, studi, pekerjaan, dan mimpi-mimpi yang terus dikejar, tetap saja
ada ruang dalam hati untuk saling mengingat. Setidaknya, ketika ada cerita
baru, satu sama lain tahu kepada siapa cerita itu bisa dibagi. Ketika sedang
berat, tahu ke mana harus menepi. Dan ketika sedang bahagia, tahu kepada siapa
kebahagiaan itu bisa diceritakan tanpa takut dibandingkan.
Saya bersyukur, bisa mengenal sosok seperti Inayah. Dalam
diam dan dalam sapa, ia tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Sebuah
nama yang akan tetap saya ceritakan kepada masa depan, bahwa saya pernah punya
teman baik yang bertahan sejauh ini. Meskipun jalan kami tak selalu beriringan,
tapi kami tetap saling menengok dan saling menyemangati. Mungkin itulah bentuk
kasih sayang yang tumbuh dari ketulusan pertemuan pertama, yang bahkan terjadi
di depan kamar mandi sebuah asrama.
Alhamdulillah, setelah cukup lama menanti kehadiran buah
hati, akhirnya di tahun 2025, doa-doa Inayah dikabulkan oleh Allah. Ia
melahirkan anak perempuan pertamanya pada tanggal 23 Januari 2025. Saya masih
ingat betul malam itu, sekitar tengah malam setelah proses persalinan, ia
langsung mengabari saya lewat pesan singkat di WA. Saat saya melihat foto bayi
mungil itu, hati saya langsung terasa ikut senang. Ada haru, ada senyum, ada
rasa syukur yang entah bagaimana ikut mengalir dalam dada saya. Anak itu begitu
cantik, secantik ibunya. Sosok kecil yang telah lama didambakan oleh Inayah
sejak ia mengarungi kehidupan rumah tangga.
Saya merasa menjadi saksi perjalanan hidupnya, dari yang
sibuk kuliah, lalu meniti karier akademik, hingga kini menjadi seorang ibu.
Bahkan, saking girangnya saya menyambut kabar kelahiran itu, saya sempat
menggoda Inayah lewat candaan ringan, “Anakmu nanti dijodohkan aja sama anak
saya, ya,” (Wkwkwk). Dalam hati saya pun berdoa, semoga kelak saya juga diberi
rezeki serupa. Hmb, hidup ini memang penuh kejutan indah yang tak pernah kita
duga.
Catatan Anak Rantau
Surabaya | 20 April 2025






Comments
Post a Comment
Beri komentar, kritikan, saran, dan masukan yang membangun. Terima Kasih! Salam Sastra dan Literasi!