DARI ALUMNI UNTUK MAHASISWA SASTRA INGGRIS UINSA: TIPS MENULIS ESAI LPDP DAN MENGGAPAI BEASISWA

 


Dari Alumni untuk Mahasiswa Sastra Inggris UINSA: Tips Menulis Esai LPDP dan Menggapai Beasiswa

Pada tanggal 7 November 2024, saya dihubungi oleh salah satu dosen pada masa kuliah S1 dulu. Beliau adalah Bapak Dr. Endratno Pilih Swasono, M.Pd., Saat ini beliau menjabat sebagai Kaprodi Sastra Inggris UINSA. Saya diberi amanah untuk mengisi sebuah acara Technical Assistance on Academic Writing yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Inggris yang bertema “Preparing an Impactful Statement of Purpose for Scholarship Application.”

Acara ini diperuntukkan bagi mahasiswa Sastra Inggris semester 5. Mereka masih muda dan sedang menapaki jalur akademik yang perlahan mulai menjurus pada pencarian arah masa depan. Saya jadi teringat masa-masa ketika masih duduk di semester itu, saat hati dipenuhi banyak tanya dan kepala penuh dengan mimpi-mimpi besar, namun juga diselimuti keraguan. Maka, bagi saya undangan untuk hadir di tengah-tengah mereka bukan hanya ajakan untuk mengisi acara, tapi seolah saya juga hadir menjadi teman seperjalanan yang ingin berbagi secuil pengalaman.

Acara ini dilaksanakan di Gedung Auditorium Fakultas Psikologi dan Kesehatan Lantai 2, tepatnya di Kampus 2 UINSA Gunung Anyar. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di auditorium baru tersebut. Ruangannya cukup luas, rapi, dan dihadiri oleh adik-adik mahasiswa sastra inggris semester 5. Dalam diam saya berdoa semoga keberadaan saya hari itu bukan hanya menjadi pengisi acara, tapi bisa memberi arti lebih.

Saya tidak sendiri dalam acara tersebut, tetapi saya juga bersama Kak Fauzan Atsari, M.Hum. Beliau adalah kakak tingkat saya saat S1 dulu. Kami pernah sama-sama kuliah di Sastra Inggris UINSA. Kak Fauzan kemudian melanjutkan S2 di UI dan sekarang sedang menempuh studi S3 di UNESA dengan beasiswa LPDP. Sedangkan saya memilih S2 di UNAIR dengan beasiswa LPDP. Senang rasanya bisa mengisi di satu acara bersama beliau. Di acara itu, kami berbagi cerita dari dua jalur subtema yang berbeda namun berujung pada misi yang sama: belajar untuk memberi kembali.

Kak Fauzan membawakan materi yang sangat penting bagi mahasiswa. Beliau menjelaskan tentang cara menulis artikel jurnal ilmiah, cara menulis skripsi, strategi mencari referensi jurnal terkini, serta bagaimana manajemen waktu yang efektif agar produktif dalam menulis. Penjelasan beliau begitu sistematis dan aplikatif. Saya bisa melihat beberapa mahasiswa sibuk mencatat. Sebagian lagi sesekali mengangguk, tanda mereka paham dan tertarik.

Saya sendiri membawakan materi tentang bagaimana menulis Essay Beasiswa untuk mendaftar beasiswa LPDP. Saya awali dengan menjelaskan tentang apa itu beasiswa LPDP, dan bagaimana sistem seleksinya. Ada tiga tahapan yang harus dilalui: Seleksi administrasi, Tes Bakat Skolastik, dan tes substansi/wawancara. Saya membagikan tips berdasarkan pengalaman pribadi ketika mendaftar. Semua saya jelaskan dengan perlahan, agar mereka yang baru pertama kali mendengar istilah-istilah tersebut bisa ikut memahami.

Presentasi yang saya tampilkan hari itu saya beri judul “Dream Big for a Brighter Future: Essential Tips for Securing an LPDP Scholarship.” Judul ini saya pilih bukan tanpa alasan. Saya ingin adik-adik di Sastra Inggris UINSA berani bermimpi besar. Saya percaya, langkah awal menuju masa depan cerah dimulai dari keberanian untuk bermimpi. Maka, hari itu saya bukan sekadar menjelaskan teknis pendaftaran, tapi juga menyalakan bara harapan di hati mereka.

Dalam sesi materi, saya memaparkan bagaimana cara menulis esai LPDP yang kemungkinan besar diterima oleh LPDP. Saya tekankan bahwa menulis esai bukan hanya tentang menunjukkan prestasi, tapi juga menggambarkan kejujuran, niat tulus, dan kontribusi yang ingin diberikan kepada bangsa. Saya juga menunjukkan dan membacakan sedikit cuplikan dari esai yang pernah saya tulis (sekadar menjadi inspirasi awal bagi mereka yang akan menulis).

Saya juga menyampaikan kepada mereka bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang dalam melanjutkan studi. Saya tegaskan bahwa beasiswa LPDP adalah bukti bahwa negara hadir untuk rakyatnya. Dana beasiswa itu bersumber dari uang pajak seluruh rakyat Indonesia. Maka, ketika kita mendapatkannya, ada tanggung jawab besar untuk kembali memberi. Pesan saya sederhana: jangan pernah takut bermimpi, karena pintu-pintu kebaikan akan terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh memperjuangkan impiannya.

Setelah acara selesai, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Endratno yang telah mengundang dan memberi saya kesempatan untuk berbagi di acara ini. Bagi saya, bisa kembali ke kampus dan berbagi kepada mahasiswa di jurusan yang pernah membentuk diri saya adalah kehormatan yang tak ternilai. Bertemu kembali dengan Pak Endratno, Pak Suhandoko, dan para dosen lainnya juga membawa nostalgia tersendiri. Rasanya seperti pulang.

Setelah acara, saya dan Kak Fauzan diajak ke ruangan Pak Endratno. Di sana, kami ngobrol santai dan bernostalgia. Serta, ada Ma’am Roudhoh juga yang sangat antusias mengajak kami berbincang. Senyuman dan sapaan hangat mereka mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu, masa ketika saya masih belajar merangkai mimpi dan kini mencoba mewujudkannya perlahan.

Sebelum pulang, saya menatap kembali gedung itu dari kejauhan. Saya bergumam dalam hati, semoga ini bukan yang terakhir. Saya ingin terus menginspirasi adik-adik mahasiswa. Saya ingin terus belajar, meng-upgrade diri, agar suatu hari nanti, saya bisa berbagi dengan lebih baik lagi. Menjadi orang yang bermanfaat adalah tujuan hidup saya. Dan acara hari itu adalah salah satu pengingat: bahwa ilmu yang dibagikan dengan ikhlas akan terus mengalir kebaikannya.

Hari itu saya pulang dengan hati penuh syukur. Bukan karena merasa hebat, tapi karena merasa diberi kesempatan untuk berguna. Saya sadar, perjalanan masih panjang. Tapi saya yakin, setiap langkah kecil yang kita tempuh dengan niat yang tulus akan membawa kita pada hal-hal besar yang penuh berkah. Bismillah, semoga di lain kesempatan, saya bisa kembali hadir, kembali menyemangati, dan kembali menghidupkan harapan di hati generasi muda yang sedang mencari arah.

 

Catatan Anak Perempuan

Surabaya | 19 April 2025

Comments