8 TAHUN TANPA AYAH DI HARI RAYA IDULFITRI: RINDU DAN DOA UNTUK KELUARGA
8 Tahun Tanpa Ayah di Hari Raya Idulfitri: Rindu dan Doa untuk Keluarga
Hari
raya Idulfitri di tahun 2025/1446 H ini terasa sangat bermakna bagi saya. Tepatnya
saya bisa merasakan idulfitri kembali di suasana kampung halaman yang hangat
dan penuh kenangan. Ya, di kampung halaman yang dipenuhi tawa dan sapaan hangat
keluarga yang berkumpul. Ada momen di mana kita duduk bersama dan berbagi
cerita. Suasana seperti ini selalu berhasil membangkitkan rasa syukur dalam
hati.
Namun,
ada ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi di hati saya setiap kali
lebaran datang. Tahun ini adalah tahun ke-8 saya merayakan Idulfitri tanpa
kehadiran sosok Ayah. Sejak beliau meninggal dunia pada bulan Maret 2018,
perasaan kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang. Saya masih sangat
mengingat dengan jelas bagaimana rasanya merayakan lebaran dengan Ayah. Kini,
hanya kenangan yang tersisa, namun kenangan itulah yang menjadi penguat hati
saya setiap kali rindu datang.
Seiring
bertambahnya usia, saya merasakan bahwa Idulfitri bukan hanya tentang pakaian
baru, hidangan khas, atau libur panjang. Lebih dari itu, Idulfitri mengajarkan
saya tentang waktu, kehilangan, dan keikhlasan. Saya bersyukur karena masih
diberi kesempatan untuk merayakan hari yang suci ini dalam keadaan sehat,
ditemani oleh keluarga besar yang hangat, serta masih memiliki Ibu yang begitu
luar biasa. Sosok yang selalu menyayangi saya tanpa syarat, yang pelukannya
selalu bisa menenangkan batin saya yang lelah.
Namun,
di balik kebahagiaan itu, terselip rasa sedih yang dalam. Saya sering bertanya
dalam hati, “Kenapa Ayah pergi begitu cepat?” Rasanya saya belum sempat
benar-benar membalas semua kebaikan dan kasih sayangnya. Rasa kehilangan itu
selalu menyelinap, apalagi ketika saya melihat keluarga lain yang masih lengkap
merayakan lebaran. Tapi saya sadar, semua sudah menjadi takdir dari Allah, dan
tugas saya hanyalah mendoakan Ayah dengan sebaik-baiknya.
Di lubuk
hati saya yang paling dalam, ada satu doa yang selalu saya panjatkan: semoga
Ibu selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Saya belum siap kehilangan
satu-satunya orang tua yang saya miliki saat ini. Membayangkan kehilangan Ibu
saja sudah membuat hati saya sesak. Saya tahu, hidup tidak bisa lepas dari
perpisahan, tapi saya masih ingin lebih lama merasakan kasih sayang Ibu secara
langsung. Semoga Allah mengabulkan harapan ini, agar saya bisa terus
membahagiakan beliau.
Seperti
tahun-tahun sebelumnya, saya juga menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke
rumah keluarga besar. Rumah nenek dari pihak Ayah menjadi salah satu tempat
yang selalu saya kunjungi. Namun, Idulfitri tahun ini terasa berbeda. Kedua
nenek saya sudah berpulang. Nenek dari pihak Ibu wafat pada Ramadan tahun lalu,
dan nenek dari pihak Ayah menyusul pada Januari tahun ini. Tidak ada lagi suara
nenek yang biasa menyambut kedatangan kami.
Saya pun
termenung, menyadari bahwa waktu terus berjalan, dan satu per satu orang yang
kita cintai akan meninggalkan dunia ini. Idulfitri yang dulu penuh kehangatan
bersama para orang tua, kini perlahan berubah menjadi momen renungan dan
perenungan. Saya belajar bahwa menghargai kehadiran orang yang kita cintai
adalah hal yang tidak boleh ditunda.
Meski
begitu, di tengah rasa haru, saya juga bersyukur karena tahun ini saya telah memiliki
tunangan. Tepatnya pada bulan Juli 2024 lalu saya telah bertunagan. Ini adalah
kali pertama saya silaturahmi ke rumah tunangan saya saat lebaran. Disambut
dengan senyum hangat oleh keluarganya membuat saya merasa diterima dan
dihargai. Semoga ikatan ini bisa terus dijaga dengan baik, dan Allah memudahkan
jalan kami menuju pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Di
tengah semua dinamika kehidupan ini, harapan terbesar saya hanyalah kesehatan
dan kebahagiaan untuk semua anggota keluarga. Saya ingin kami semua tetap
diberi umur panjang untuk merasakan kembali indahnya Ramadan dan Idulfitri di
tahun-tahun mendatang. Sebab saya tahu betapa sakitnya perasaan kehilangan, dan
saya tidak ingin terlalu cepat merasakannya lagi. Biarlah waktu berjalan
perlahan, asalkan kami masih bisa saling menyapa, berpelukan, dan tertawa
bersama.
Idulfitri
memang istimewa. Tidak hanya sebagai momen kemenangan setelah sebulan berpuasa,
tetapi juga sebagai pengingat bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi
amarah dan dendam. Saya melihat sendiri bagaimana momen lebaran mampu
mendamaikan hati yang tadinya keras, menyatukan kembali hubungan yang sempat
renggang. Allah benar-benar memberikan keindahan dalam silaturahmi,
menjadikannya obat untuk jiwa-jiwa yang lelah dan terluka.
Setiap
kali saya bersalaman dan meminta maaf pada keluarga, hati saya terasa ringan.
Seolah semua kesalahpahaman, ucapan yang menyinggung, dan perbedaan pendapat
yang pernah terjadi, bisa dimaafkan di hari yang fitri ini. Saya percaya bahwa
keluarga adalah anugerah paling berharga yang Allah berikan. Maka, tak ada
alasan untuk membiarkan jarak atau ego memisahkan kami. Di tengah dunia yang
semakin sibuk dan individualis, momen seperti ini adalah pengingat bahwa kita
selalu butuh tempat untuk pulang.
Idulfitri
kali ini mengajarkan saya satu hal penting: bahwa setiap orang datang dan pergi
dalam hidup kita dengan alasan. Kehilangan memang menyakitkan, tapi ia juga
mendidik kita untuk lebih mencintai, lebih menghargai, dan lebih mendekatkan
diri kepada Allah. Saya ingin menjadikan momen ini sebagai titik tolak untuk
memperbaiki diri, lebih mendekat kepada keluarga, dan lebih mencintai
kehidupan, selagi masih ada waktu. Karena kita tidak pernah tahu, siapa yang
akan tetap bersama kita di Idulfitri berikutnya.
Catatan Anak Perempuan







Comments
Post a Comment
Beri komentar, kritikan, saran, dan masukan yang membangun. Terima Kasih! Salam Sastra dan Literasi!