PENGALAMAN BERHARGA DI PERTEMUAN PENYAIR NUSANTARA XIII JAKARTA 2025
Pengalaman Berharga di Pertemuan Penyair Nusantara XIII Jakarta 2025
Saya
masih ingat betul tanggal 30 Mei 2025. Hari itu saya mengirimkan tiga naskah
puisi untuk mengikuti kurasi Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII di
Jakarta. Tema yang diangkat adalah “Puisi untuk Persaudaraan dan
Perdamaian”. Rasanya campur aduk ketika klik tombol kirim di email. Antara
yakin dan ragu, antara berharap dan pasrah. Saya hanya bisa berdoa, semoga ada
satu saja dari tiga puisi itu yang bisa tembus kurasi.
Panitia
akan memilih 100 karya penyair terbaik dari seluruh Indonesia, lalu mengundang
mereka untuk hadir dalam PPN XIII di Jakarta pada tanggal 11-14 September 2025.
Saya membayangkan, betapa istimewanya jika bisa bertemu dengan ratusan penyair
dari berbagai penjuru negeri, duduk dalam satu forum, saling membaca karya, dan
saling menyapa. Rasanya seperti mimpi bagi saya yang selama ini hanya menulis
dan membacakan puisi di Sumenep (Tanah Kelahiran) dan di Surabaya saja.
Alhamdulillah,
doa saya dijawab Allah. Pada 21 Juli 2025, pengumuman kurasi keluar. Nama saya
tercantum di antara 100 penyair yang lolos. Puisi saya yang berjudul “Dua
Cerita Tentang Jalan” lah yang lolos kurasi dan terpilih. Saking senangnya,
saya sampai terharu. Ada rasa syukur mendalam, karena melalui puisi inilah saya
akhirnya akan menjejakkan kaki di Jakarta. Bayangkan, butuh waktu 27 tahun
untuk bisa ke ibu kota, dan itu bukan karena jalan-jalan atau urusan keluarga,
melainkan karena sebuah karya.
Sebenarnya
saya bisa saja pergi ke Jakarta kapan pun asal ada uang. Namun, sejak dulu saya
lebih memilih perjalanan yang sarat makna. Saya ingin sebuah alasan yang kuat,
sebuah prestasi, sebuah peristiwa penting yang bisa membuat perjalanan terasa
berwarna. Kalau hanya sekadar liburan, saya merasa kurang ada ruhnya. Maka
ketika kesempatan PPN XIII datang, saya tahu ini adalah momen yang tepat. Saya
tidak ingin melewatkannya.
Di bulan
Agustus 2025, saya mulai menyiapkan segalanya. Tiket kereta api PP sudah saya
pesan jauh-jauh hari. Tiket berangkat dari Surabaya ke Jakarta pada 10
September 2025, harganya Rp104.000. Tiket pulang dari Jakarta ke Surabaya saya
pesan untuk tanggal 16 September 2025, dengan harga Rp320.000. Saya memesan
kedua tiket itu melalui aplikasi KAI Access. Alhamdulillah saya ada uang cukup untuk membeli tiket tersebut.
Namun, ternyata
semuanya tidak berjalan mulus. Pada 10 September 2025, saya berangkat ke Stasiun Pasar Turi jam 12.10, karena kereta
saya berangkat jam 12.50 ke Jakarta. Sayangnya, saya justru ketinggalan kereta.
Jelas saya sedih. Saya sampai di stasiun jam 12.53, hanya selisih tiga menit.
Kereta sudah melaju. Sebelumnya saya memang sempat menunggu Grab cukup lama,
lalu terjebak macet, bahkan sempat berdebat kecil soal rute dengan sopir.
Lalu, sesegera mungkin saya membeli tiket kereta api lagi untuk pemberangkatan berikutnya.
Alhamdulillah masih ada kursi kosong untuk keberangkatan jam 13.50, meski
harganya jauh lebih mahal, yaitu Rp312.000. Saya tidak banyak pikir panjang, langsung
beli. Tapi ternyata ada tantangan lagi. Kereta yang berangkat jam 13.50 yang saya beli itu bukan berangkat dari stasiun Pasar Turi,
melainkan dari stasiun Gubeng. Panik lagi, karena waktu semakin mepet. Saya
buru-buru mencari GoCar, dan syukurnya bisa langsung dapat sopir GoCar di stasiun Pasar Turi yang siap
berangkat tanpa menunggu lama.
Saya
tiba di stasiun Gubeng sekitar jam 13.30. Masih ada waktu dua puluh menit
sebelum kereta berangkat. Rasanya benar-benar lega. Saya menghela napas
panjang, mengucap syukur berkali-kali. Kali ini saya benar-benar bisa naik
kereta menuju Jakarta. Semua drama dari pagi sampai siang itu seakan jadi
pelajaran berharga untuk berangkat lebih awal dan jangan terlalu percaya pada
perkiraan waktu yang sempit.
Ini
adalah pengalaman pertama saya naik kereta jarak jauh. Sebelumnya saya hanya
pernah ke Kediri, Malang, dan Pasuruan dengan kereta api. Perjalanan ke Jakarta
sungguh berbeda. Waktu terasa panjang, tapi juga memberi ruang untuk merenung.
Saya tiba di Jakarta hampir jam 2 dini hari. Kota besar itu terasa asing
sekaligus menantang. Lampu-lampu masih menyala, jalanan cukup sepi.
Saya tersenyum sendiri, “Ya Allah, akhirnya aku benar-benar sampai di sini.”
Keesokan
paginya, 11 September 2025, saya menyempatkan diri mampir ke Universitas
Indonesia. Hanya sebentar, sekadar memenuhi rasa ingin tahu. Siangnya, sekitar
jam 14.00, saya bergerak menuju penginapan yang disediakan panitia di Balai
Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi DKI Jakarta. Perjalanan dari Depok
ke Jakarta naik KRL dan Grab ternyata cukup memakan waktu. Saya baru sampai
sekitar hampir jam 16.00. Belum sempat mandi, belum sempat shalat Ashar, dan belum sempat
berdandan. Tiba-tiba panitia sudah mengingatkan agar segera siap-siap, karena
jam 16.30 harus berangkat ke Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk pembukaan.
Sampai
kamar, saya langsung shalat ashar dulu. Lalu, dengan tergesa-gesa pula
bersiap-siap, berpakaian, dan berdandan. Malam itu setiap peserta diminta
mengenakan busana tradisional daerah masing-masing. Saya membawa kebaya hitam,
kerudung hitam, dan jarik marlena merah khas Madura. Lalu bersama peserta lain,
saya naik bus Transjakarta yang sudah disediakan panitia. Dalam perjalanan,
saya menenangkan diri, mencoba menikmati momen yang sudah lama saya tunggu.
Maghrib,
kami sampai di TIM. Suasana hangat menyambut. Pertama makan malam bersama, lalu
forum dibuka di Teater Kecil TIM. Malam itu penuh kejutan bagi saya. Saya
bertemu banyak penyair dari berbagai daerah. Ada Bunda Helvy Tiana Rosa, ada
Presiden Penyair Indonesia, Sutadji Calzoum Bachri, ada Pak Maman S. Mahayana,
Ahmadun Yosi Herfanda, Mahwi Air Tawar, Imam Ma’arif, dan masih banyak lagi.
Saya bahkan sempat berfoto dengan Bunda Helvy. Ya ampun, rasanya seperti mimpi.
Dulu saya hanya membaca nama beliau di buku, kini bisa berfoto berdua.
Malam
pembukaan terasa semakin meriah ketika para penyair senior tampil membacakan
puisi. Suasana semakin sakral saat acara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur DKI
Jakarta. Saya duduk, mendengarkan, dan menyimpan setiap detail dalam hati.
Malam itu, saya benar-benar merasa bahwa perjalanan panjang saya dari Surabaya,
ketinggalan kereta, panik, lelah, semua terbayar lunas. Saya hadir di sini,
bersama para penyair hebat, di forum yang luar biasa.
Usai
acara, panitia mengantar kami kembali ke penginapan menggunakan bus
Transjakarta. Perjalanan pulang terasa jauh, karena ternyata jarak antara TIM
dan BPMP memang lumayan jauh. Tapi meskipun badan lelah, hati saya tetap penuh
syukur. Saya berkata pada diri sendiri, bahwa semua ini adalah awal. Awal dari
perjalanan baru, awal dari mimpi yang perlahan-lahan diwujudkan oleh sebuah
puisi.
Hari
kedua acaranya juga bertempat di Taman Ismail Marzuki. Sejak pagi hingga siang,
acaranya adalah seminar-seminar yang serius namun hangat. Diskusi tentang model
penghargaan sastra dan peran terjemahan dalam kebijakan penerbitan buku sastra.
Ruang diskusi dipenuhi wajah-wajah yang antusias.
Sore
harinya suasana berubah jadi lebih ringan karena ada sesi pembacaan puisi di
luar Teater Kecil. Malamnya, kembali ke dalam Teater Kecil, suasana formal tapi
tetap akrab. Pembacaan puisi bergilir, tepuk tangan, dan beberapa momen sunyi saat
bait-bait menyentuh hati. Saya duduk mendengarkan, merekam setiap gaya
pembacaan, mencoba menyerap energi panggung yang berbeda dari seminar pagi.
Hari
ketiga dimulai di Perpustakaan Nasional RI. Topik hari itu adalah tentang “Tantangan
Puisi di Era AI.” Pembicara membahas soal otomasi, pembuatan teks oleh mesin,
dan bagaimana penyair harus menjaga keaslian karya. Diskusi memantik banyak
pertanyaan etis, tentang bagaimana kita memposisikan puisi di tengah teknologi yang
makin canggih? Bagi saya, itu menjadi pengingat untuk terus mengasah
orisinalitas dan kedalaman berpikir.
Pada siang
harinya di hari ketiga, kami pindah ke Monas. Berwisata sebentar ke puncak
Monas, melihat kota Jakarta dari ketinggian, seolah memberi napas baru setelah rangkaian acara
serius. Di taman Monas, dekat patung Chairil Anwar, ada pembacaan puisi, yang seolah
menumpahkan puisi di hadapan salah satu jiwa besar sastra Indonesia. Hari itu
pula buku antologi bersama yang memuat karya-karya peserta dibagikan. Memegang
buku itu rasanya seperti memegang bukti bahwa puisi saya kini berjalan-jalan
juga.
Setelah
kegiatan di Monas selesai, rombongan kami diantar menuju kantor Badan Bahasa Kemendikdasmen di
Jakarta untuk malam penutupan. Di situ kami mendapatkan makan malam, uang transport
sebesar Rp170.000 dan goodie bag yang isinya kaos PPN XIII serta majalah Liris.
Kenang-kenangan yang membuat senyum saya mengembang. Hadiah-hadiah kecil itu
terasa penuh makna karena menjadi bukti bahwa perjalanan ini memang
terselenggara dan mengapresiasi peserta, bukan sekadar seremoni.
Malam
penutupan menghadirkan momen-momen menggetarkan. Pak Taufik Ismail membaca
puisi dan juga ada pembacaan puisi dari penyair-penyair luar negeri. Kehadiran penyair
dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand memberi nuansa
internasional, bahasa berbeda, tapi rasa yang sama. Cinta pada kata dan makna.
Mendengar suara penyair dari negeri tetangga membuat saya sadar bahwa puisi
adalah jembatan yang melintasi batas.
Dari
pertemuan itu pula lahir keputusan besar. Melalui musyawarah para pengurus dan
penyair senior bersama para penyair dari keempat negara tetangga, nama
“Pertemuan Penyair Nusantara” disepakati berubah menjadi Festival Puisi
Nusantara. Rencana perjalanan festival pun sudah mulai digadang, ada
rencana ke Aceh, kemudian Makassar, Brunei, lalu Palembang (saya agak lupa
urutannya). Mendengar rencana-rencana itu membuat saya berdebar. Bayangan
menjejak di banyak kota membangkitkan semangat berpetualang bersama puisi. Rangkaian
ini memberikan harapan dan impian baru bagi para penyair untuk bisa terus hadir
dan berkontribusi.
Saya
sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari acara ini. Sebagai penyair yang
sering ikut lomba dan menulis di sudut-sudut kecil, kesempatan seperti PPN (eh,
Festival nanti) adalah karunia yang sangat langka. Sudah sejak lama saya mencintai
puisi dan dunia sastra, sehingga bisa hadir dalam forum sebesar ini terasa
sebagai anugerah. Semoga tahun-tahun berikutnya saya bisa lolos kurasi lagi dan
mengunjungi Aceh, Makassar, Brunei, Palembang, serta kota-kota lain yang
menjadi tuan rumah. Jika harus mengeluarkan biaya sendiri lagi, saya rela menabung. Dan
siapa tahu, di tahun-tahun berikutnya penyelenggara bisa menanggung sebagian atau
bahkan seluruhnya biaya akomodasi untuk peserta terpilih agar lebih meringankan
langkah para penyair muda khususnya.
Selain
acara formal, salah satu hal paling berkesan adalah kebersamaan dengan
teman-teman penyair baru. Saya senang sekali bisa kenal sosok-sosok keren
seperti Kak Annisa Resmana dari Bandung yang ramah, Ifa dari Aceh yang hangat,
dan Charm dan Faiz dari Sabah, Malaysia, yang hadir sebagai peninjau. Dari awal
perkenalan, obrolan kami mengalir begitu saja, membuat suasana akrab tercipta
dengan cepat. Hadirnya mereka membuat acara terasa seperti reuni pertemanan
lintas nusantara.
Kedekatan
dengan Charm dan Faiz membuat pengalaman saya semakin berwarna. Sejak hari
kedua kami sering bersama. Duduk berdampingan di ruangan Teater Kecil, di
Perpusnas, dan bahkan saat menjelajah Monas kami hampir tak terpisahkan. Momen
naik ke menara Monas bersama mereka, berfoto bersama, dan bercanda di sepanjang
perjalanan membuat saya merasa seperti memiliki sahabat baru. Rasanya seperti
menemukan kawan segeng yang nyambung sekali di tengah keramaian festival puisi
yang besar.
Menjelang
penutupan, tiba-tiba hati terasa berat karena sebentar lagi harus berpisah.
Kebersamaan yang singkat itu meninggalkan jejak hangat. Kenangan itu akan
selalu melekat, dan saya berharap suatu saat bisa berkunjung ke Sabah untuk
kembali bertemu mereka, entah dalam acara puisi atau perhelatan sastra lainnya.
Malam itu juga ada kejutan kecil. Seorang penyair perempuan asal Thailand
mendadak memberikan saya oleh-oleh mie instan khas negaranya. Hadiah sederhana
namun penuh tanda persahabatan. Kecil, tapi begitu berarti. Saya pun
mengabadikan momen itu dengan selfie bersama, sebagai kenang-kenangan yang
manis.
Hari
keempat menjadi penutup perjalanan yang tak kalah menyenangkan. Sekitar pukul
setengah sepuluh pagi, saya ikut jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta bersama
panitia dan para penyair yang masih bertahan. Sebagian besar penyair memang
sudah lebih dulu pulang. Kota Tua Jakarta menghadirkan nuansa klasik yang
mengingatkan saya pada Kota Lama di Surabaya. Tentu saja, kesempatan ini tidak
saya lewatkan begitu saja. Saya berfoto di beberapa sudut tempat sebagai
kenang-kenangan. Momen sederhana ini menutup seluruh rangkaian pengalaman saya
di PPN XIII dengan manis.
Meski
banyak kenangan indah, saya juga memiliki beberapa catatan reflektif terhadap
acara ini. Salah satunya soal pembagian panggung. Tidak semua penyair yang
hadir mendapat kesempatan membaca. Sepertinya ada prioritas bagi penyair senior
di panggung-panggung besar seperti Teater Kecil, Perpusnas, dan Badan Bahasa,
sementara penyair milenial dan Gen Z lebih sering ditempatkan di panggung luar
atau ruang terbuka yang kurang mendapat perhatian serius. Saya sendiri saja belum
dipanggil untuk membaca puisi di manapun. Pikir saya, mungkin karena saya masih
sangat baru. Dan memang baru pertama kali ini pula terlibat di event Pertemuan
Penyair Nusantara. Namun saya tetap bersyukur bisa hadir dan menyimak seluruh
acara dari awal hingga akhir. Catatan ini bukan atas dasar iri atau merasa diri ini sangat layak untuk membaca puisi saat itu. Tetapi semata-mata mengharapkan agar konsep penyelenggaraan acara ini bisa lebih baik lagi ke depannya.
Catatan
lain adalah soal konsep dan struktur acara yang bisa dievaluasi. Menurut saya,
akan lebih adil dan produktif jika ada sebuah ruang konferensi yang dibagi ke
beberapa ruangan tematik sehingga lebih banyak peserta bisa speak up, saling
menyampaikan pendapat dan menyuarakan pandangan. Pembacaan puisi juga idealnya
dibagi ruang di mana ada beberapa generasi yang terlibat di dalamnya dalam
porsi yang seimbang. Jangan semua pembacaan besar hanya dikuasai yang senior, sementara
panggung outdoor diberikan pada penyair muda, di mana penonton kurang
fokus dalam menyaksikannya. Itu saran kecil dari saya agar festival berikutnya
makin inklusif. Dan lagi, menurut saya ruangan Teater Kecil di TIM itu AC-nya
terlalu dingin, hehe. Sampai membuat saya berulang kali keluar ruangan untuk
pipis dan dinginnya juga sangat membuat ngantuk.
Akhir
kata, saya pulang dari PPN XIII dengan hati penuh syukur. Meski ada catatan yang harus dievaluasi untuk acara ini, tapi tak mengurangi kebahagiaan
atas kesempatan bertemu, belajar, dan menjalin persahabatan lintas daerah
maupun negara. Saya menulis ini sebagai catatan perjalanan, sebuah pengingat
bahwa lewat puisi, saya sudah diberi jalan untuk bertemu dunia. Semoga tahun
depan saya kembali berpartisipasi, lolos kurasi, dan membawa lebih banyak
cerita lagi.
Catatan Anak Rantau
%2020250913_143938.jpg)
%2020250911_215822.jpg)
%20IMG-20250912-WA0014.jpg)
%20FB_IMG_1758265904924.jpg)
%20FB_IMG_1758265994481.jpg)
%20IMG_20250920_123810.jpg)
%20IMG-20250914-WA0052.jpg)






Comments
Post a Comment
Beri komentar, kritikan, saran, dan masukan yang membangun. Terima Kasih! Salam Sastra dan Literasi!