CERITA PERJALANAN DAFTAR S2 DI UNAIR

                                              Cerita Perjalanan Daftar S2 di UNAIR

Ada fase dalam hidup yang membuat saya belajar bahwa setiap keputusan, sekecil apa pun, ternyata memiliki alasan dan pertimbangannya sendiri. Setelah dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP pada Agustus 2021, saya merasa sangat bersyukur sekaligus lega. Rasanya seperti baru saja melewati jalan panjang yang melelahkan. Namun, ternyata perjalanan itu belum selesai. Setelah pengumuman kelulusan beasiswa keluar, saya masih harus melanjutkan langkah berikutnya, yaitu mendaftar ke kampus tujuan S2 saya. Pada saat seleksi administrasi LPDP sebelumnya, saya sudah mencantumkan tiga kampus tujuan studi di dalam negeri. Pilihan pertama saya adalah Universitas Airlangga, pilihan kedua Universitas Gadjah Mada, dan pilihan ketiga Universitas Diponegoro. Ketiga kampus itu bukan pilihan yang saya tentukan secara mendadak, melainkan hasil dari banyak pertimbangan yang saya pikirkan cukup lama.

Banyak orang mungkin bertanya-tanya kenapa saya baru melanjutkan pendaftaran kampus pada Maret 2022, padahal pengumuman LPDP sudah keluar sejak Agustus 2021. Jawabannya sederhana. Program Magister Linguistik di Universitas Airlangga hanya menerima mahasiswa baru pada awal tahun dan perkuliahannya dimulai dari semester gasal. Sementara itu, pengumuman hasil seleksi tahap akhir LPDP baru keluar pada tanggal 30 Agustus 2021. Sedangkan jadwal pendaftaran penerimaan mahasiswa baru di UNAIR, bahkan sampai gelombang terakhirnya, sudah ditutup sejak awal Agustus 2021. Jadi, mau tidak mau saya memang harus menunggu pembukaan pendaftaran berikutnya di tahun selanjutnya.

Sebenarnya, saya sempat memikirkan kemungkinan untuk mendaftar ke kampus tujuan terlebih dahulu sebelum pengumuman beasiswa keluar, seperti yang dilakukan sebagian orang. Akan tetapi, saya benar-benar memikirkan risiko yang mungkin terjadi setelahnya. Saya takut jika ternyata saya diterima di kampus tujuan, tetapi tidak lolos beasiswa. Pada waktu itu, saya sadar betul bahwa biaya kuliah S2 bukan sesuatu yang ringan untuk saya tanggung sendiri. Saya terus memikirkan, “Kalau ternyata tidak dapat beasiswa, lalu saya harus membayar kuliah dengan apa?” Pertanyaan itu terus ada di kepala saya. Pokoknya, saya takut jika nanti saya sudah diterima di kampus tujuan, tetapi akhirnya tidak jadi mengambil kuliahnya karena kendala biaya. Jadi, saya memilih jalan yang paling aman menurut saya. Saya ingin memastikan terlebih dahulu bahwa saya benar-benar diterima sebagai penerima beasiswa, baru setelah itu melanjutkan proses ke kampus tujuan.

Saya sadar bahwa setiap orang memiliki kondisi dan keberanian masing-masing. Ada yang memilih untuk mendaftar ke kampus tujuan terlebih dahulu dan sudah mendapatkan LoA sebelum mendaftar beasiswa. Itu juga tidak salah. Mungkin mereka memiliki tabungan, dukungan finansial keluarga, atau rencana cadangan lain apabila beasiswanya belum diterima. Sedangkan saya pada saat itu belum memiliki keberanian sebesar itu. Saya belum sanggup membayangkan bagaimana jika harus membayar SPP magister setiap semester secara mandiri. Karena itulah, saya lebih memilih memastikan satu per satu langkah hidup saya dengan perlahan.

Sebelum benar-benar mendaftar ke Universitas Airlangga, tentu saya sudah melakukan banyak persiapan. Sejak awal seleksi administrasi LPDP, saya memang tidak memilih kampus tujuan secara asal-asalan. Saya benar-benar membaca dan mengamati banyak hal tentang kampus-kampus tersebut. Saya membuka website resmi masing-masing universitas, membaca profil program studinya, mempelajari kurikulumnya, hingga mencari tahu bagaimana lingkungan akademiknya. Bahkan saya juga sering melihat official social media kampusnya untuk mengetahui aktivitas mahasiswa dan suasana perkuliahannya. Bagi saya, memilih kampus bukan hanya soal nama besar, tetapi juga tentang tempat yang paling sesuai dengan mimpi dan bidang yang ingin saya tekuni.

Saat saya mau mendaftar di Program Magister Ilmu Linguistik Universitas Airlangga, saya membaca informasi pendaftarannya dengan sangat detail melalui website resmi PPMB UNAIR https://ppmb.unair.ac.id/. Saya membaca semuanya satu per satu, mulai dari jadwal dan gelombang pendaftaran, jenis jalur seleksi yang tersedia, biaya pendaftaran, biaya kuliah, cara pembayaran, hingga daya tampung mahasiswa baru untuk semester gasal. Saya juga membaca dengan teliti apa saja persyaratan umum dan persyaratan khusus untuk program studi yang saya pilih. Rasanya waktu itu saya benar-benar tidak ingin ada satu informasi pun yang terlewat.

Karena sistem pendaftarannya dilakukan secara online, maka semua proses harus dilakukan secara runtut melalui website pendaftaran. Mulai dari registrasi akun, pengisian formulir, hingga unggah dokumen persyaratan. Saya masih ingat bagaimana perasaan saya waktu itu. Antara deg-degan, takut salah mengisi data, tetapi juga merasa sangat bersemangat karena akhirnya sampai di tahap ini. Tahap yang dulu rasanya hanya sebatas angan-angan.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah membuat akun pendaftaran secara online melalui laman pendaftaran resmi UNAIR http://pendaftaran.unair.ac.id. Setelah berhasil membuat akun, saya mulai mengisi biodata dan melengkapi seluruh informasi yang diminta. Saya mengisi satu per satu dengan penuh hati-hati karena tidak ingin ada kesalahan sedikit pun pada data yang saya kirimkan.

Untuk persyaratan pendaftarannya sendiri, ada cukup banyak dokumen yang harus saya siapkan. Saya harus melampirkan KTP, pas foto terbaru, ijazah asli S1, transkrip nilai S1, surat pernyataan kebenaran pengisian biodata, dan surat pernyataan SP3 bermaterai. Bahkan untuk pas foto pun, saya benar-benar menyiapkannya dengan serius. Saya sampai datang ke Istana Studio Foto yang berada di dekat kampus UINSA hanya untuk mengambil foto terbaru khusus untuk kebutuhan pendaftaran ini. Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi waktu itu rasanya semuanya begitu berarti bagi saya.

Selain persyaratan umum, Program Magister Ilmu Linguistik juga memiliki persyaratan khusus yang harus dipenuhi calon mahasiswa. Salah satunya adalah IPK minimal 3.00. Alhamdulillah, IPK S1 saya berada di atas syarat minimal tersebut. Selain itu, program studi ini juga mensyaratkan lulusan S1 dari bidang sastra dan pendidikan. Dan saya bersyukur karena latar belakang saya sebagai lulusan Sastra Inggris membuat saya memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Waktu membaca syarat-syarat itu, saya merasa sedikit lega karena setidaknya saya sudah memenuhi bagian penting dari proses seleksi administrasi tersebut.

Kadang kalau mengingat kembali fase itu, saya merasa perjalanan menuju S2 ternyata bukan hanya tentang mendaftar kuliah. Ada banyak rasa takut, pertimbangan, kebingungan, dan doa-doa panjang yang menyertainya. Ada proses belajar untuk berhati-hati mengambil keputusan, belajar memahami kemampuan diri sendiri, dan belajar percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri. Dan mungkin, itulah yang paling saya syukuri dari perjalanan itu. Bukan hanya tentang akhirnya diterima di kampus tujuan, tetapi tentang bagaimana saya belajar bertumbuh pelan-pelan selama prosesnya.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam proses pendaftaran S2 waktu itu adalah saya memiliki kesempatan untuk mendaftar melalui jalur non-tes tulis atau jalur portofolio. Jalur ini diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang memiliki karya tulis ilmiah yang diterbitkan di jurnal nasional minimal terakreditasi Sinta 3 atau jurnal internasional bereputasi dalam tiga tahun terakhir. Alhamdulillah, pada saat itu saya memiliki artikel ilmiah yang terbit di NOBEL Journal tahun 2021 yang sudah terakreditasi Sinta 3. Jujur saja, waktu melihat syarat jalur tersebut dan menyadari bahwa saya memenuhi kriterianya, saya merasa sangat bersyukur. Rasanya seperti Allah benar-benar mempertemukan semua proses yang pernah saya jalani sebelumnya untuk membantu saya sampai di titik itu. Semua lelah saat menulis, merevisi, hingga proses publikasi jurnal waktu itu terasa tidak sia-sia.

Setelah semua dokumen persyaratan selesai saya siapkan, saya mulai mengunggah satu per satu berkas yang dibutuhkan ke laman pendaftaran online. Saya benar-benar memeriksa ulang semuanya dengan teliti. Mulai dari identitas diri, ijazah, transkrip nilai, pas foto, surat pernyataan, hingga dokumen pendukung lainnya. Saya takut ada file yang salah diunggah atau ternyata ada bagian yang terlewat. Setelah semua proses unggah selesai, langkah berikutnya adalah melakukan pembayaran biaya pendaftaran. Waktu itu, biaya pendaftaran program magister sebesar Rp.700.000. Saya melakukan pembayaran melalui teller Bank BRI pada tanggal 18 Maret 2022. Saya masih ingat bagaimana rasanya memegang slip pembayaran itu. Rasanya campur aduk. Antara lega karena satu tahap sudah selesai, tetapi juga deg-degan menunggu tahap berikutnya.

Setelah pembayaran berhasil dilakukan dan diverifikasi, saya akhirnya bisa mencetak kartu ujian pendaftaran magister. Namun, karena saya mengambil jalur non-tes tulis atau portofolio, saya tidak perlu mengikuti Tes Potensi Akademik seperti peserta jalur reguler lainnya. Jadi saya tidak mengikuti tes kemampuan verbal, tes kemampuan numerik, tes penalaran, maupun tes bahasa Inggris. Saat mengetahui hal itu, saya merasa sedikit lebih tenang karena bisa lebih fokus mempersiapkan tahap wawancara. Meski begitu, tentu saja saya tetap merasa gugup. Sebab menurut saya, wawancara justru menjadi salah satu tahap yang sangat menentukan.

Hari wawancara pun akhirnya tiba pada tanggal 26 Maret 2022. Sejak pagi saya sudah berusaha menenangkan diri dan mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Saya mencoba mengingat kembali alasan saya memilih Program Magister Ilmu Linguistik, apa yang ingin saya capai setelah kuliah nanti, dan bagaimana saya akan menjelaskan latar belakang akademik saya. Alhamdulillah, proses wawancara berjalan dengan lancar. Saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dengan baik meskipun tetap ada rasa gugup di dalam hati. Setelah wawancara selesai, saya hanya bisa berdoa dan menunggu hasil pengumuman dengan penuh harap.

Sampai akhirnya pada tanggal 29 Maret 2022 pengumuman itu keluar. Dan Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos dan diterima sebagai mahasiswa Magister Ilmu Linguistik di Universitas Airlangga. Jujur, sampai sekarang pun saya masih sering merasa tidak menyangka ketika mengingat momen itu. Saya, yang dulu hanya anak kampung biasa dengan mimpi sederhana, akhirnya bisa melanjutkan studi S2 di salah satu kampus terbaik di negeri ini. Kampus yang selama ini saya lihat sebagai kampus besar, kampus elit, kampus keren, dan tempat berkumpulnya banyak orang hebat. Rasanya benar-benar campur aduk antara bahagia, haru, lega, dan bersyukur. Saya sampai beberapa kali membaca ulang pengumuman itu hanya untuk memastikan bahwa nama saya benar-benar tertulis.

Dari semua proses itu, saya akhirnya belajar bahwa mempersiapkan pendaftaran ke kampus tujuan sebenarnya tidak sesulit yang sering dibayangkan banyak orang, selama kita mau mencari informasi dengan sungguh-sungguh. Kuncinya adalah rajin membaca informasi resmi dari website kampus, memahami alur pendaftarannya, memahami syarat-syaratnya, dan mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Kadang kita memang merasa takut duluan sebelum mencoba. Padahal, banyak hal dalam hidup yang sebenarnya bisa dilalui pelan-pelan asal kita mau belajar memahami prosesnya. Dan mungkin itulah salah satu hal yang paling saya pelajari dari perjalanan menuju S2 saya: bahwa langkah besar selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba satu langkah kecil terlebih dahulu.

 

Catatan Perjalanan Hidup

Surabaya | 03 Mei 2026

Comments