NGABUBURIT DI MASJID NASIONAL AL-AKBAR SURABAYA: MENIKMATI KEINDAHAN KOTA DARI MENARA
Ngabuburit di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya: Menikmati
Keindahan Kota dari Menara
Pada hari pertama puasa, saya dan sahabat saya, Aan,
memutuskan untuk ngabuburit ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Setelah
menunaikan shalat ashar, kami segera berangkat menuju masjid tersebut dengan
penuh semangat. Tujuan utama kami adalah menaiki menara masjid untuk menikmati
pemandangan kota Surabaya dari ketinggian.
Sesampainya di sana, kami langsung menuju menara.
Beruntung, kami tiba sebelum pukul 16.00, karena berdasarkan informasi yang
kami peroleh, operasional menara hanya sampai jam tersebut. Kami merasa lega
karena tidak terlambat dan masih memiliki kesempatan untuk naik. Di depan
menara, kami sempat kebingungan mencari petugas yang bertanggung jawab. Tidak
ada petugas yang terlihat di sekitar area tersebut. Namun, saat lift menara
terbuka dan beberapa orang turun, ternyata petugasnya berada di dalam lift. Kami
pun masuk ke dalam lift untuk naik ke atas menara.
Untuk menikmati wisata menara ini, kami harus membayar
karcis seharga Rp10.000 per orang ke petugas menara tadi. Sesampainya di atas
menara, kami disuguhi pemandangan Surabaya yang menakjubkan. Gedung-gedung
seperti UINSA, UNAIR Kampus B, hotel, apartemen tinggi, dan jalan tol di
samping masjid terlihat jelas. Bahkan, kami melihat pesawat yang terbang di
kejauhan daerah Juanda di sebelah selatan.
Saya dan Aan sangat gembira karena keinginan kami untuk
naik ke menara masjid akhirnya tercapai. Kami mengabadikan momen tersebut
dengan berfoto-foto di atas menara, menikmati setiap sudut pemandangan yang
disajikan. Saat berada di atas menara, kami bertemu dengan sekelompok turis
asing yang juga menikmati keindahan Surabaya dari ketinggian. Yang menarik,
turis laki-laki mengenakan sarung dan baju koko, sementara turis perempuan
memakai kerudung. Saya menjadi kagum dan heran sekaligus.
Setelah puas di atas menara, kami turun dan menuju halaman
depan masjid, tepatnya di dekat kolam air mancur. Di sana, kami kembali berfoto.
Kami kemudian memutuskan untuk mengikuti kajian sore yang diadakan di dalam
masjid, tepatnya di lantai 1. Kebetulan, pembicaranya adalah Prof. Dr. H. Moh.
Ali Aziz, M.Ag, salah satu guru besar di UINSA. Alhamdulillah, kami juga mendapatkan
takjil dan nasi untuk berbuka puasa di masjid. Kami memilih berbuka di halaman
depan masjid, di dekat air mancur, di bawah pilar. Suasana kebersamaan dengan
banyaknya jamaah lain menambah kenikmatan berbuka puasa.
Untuk melengkapi hidangan buka puasa, kami membeli es teh
dari penjual yang ada di halaman masjid. Saya merasa senang dan bersyukur karena
dapat merasakan suasana buka puasa hari pertama di Masjid Nasional Al-Akbar. Setelah
berbuka, kami menunaikan shalat maghrib, lalu menunggu waktu shalat isya dan
tarawih. Kami mengikuti shalat tarawih sebanyak 8 rakaat di masjid tersebut.
Seusai shalat tarawih, barulah kami pulang ke asrama.
Tahun sebelumnya, pada Ramadan 2024, saya dan Aan juga
pernah ngabuburit, berbuka puasa, dan shalat tarawih di masjid ini. Jadi,
kunjungan kali ini adalah yang kedua kalinya. Namun, tahun lalu kami belum
berkesempatan naik ke menara masjid. Baik tahun lalu maupun tahun ini, saya
merasakan kebahagiaan yang sama dapat menikmati suasana Ramadan di Masjid
Nasional Al-Akbar bersama Aan. Pengalaman ini menjadi kenangan indah yang akan
selalu saya ingat.
Kebersamaan, keindahan arsitektur masjid, dan suasana
religius membuat saya betah ada di sini. Semoga di masa mendatang dapat kembali
merasakan momen-momen berharga seperti ini. Pengalaman ini juga mengajarkan untuk
selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan dan memanfaatkan waktu dengan
kegiatan positif selama bulan suci Ramadan. Saya berharap dapat terus
meningkatkan kualitas ibadah dan mempererat tali persahabatan.
Catatan Perempuan
Surabaya | 01 Maret 2025







Comments
Post a Comment
Beri komentar, kritikan, saran, dan masukan yang membangun. Terima Kasih! Salam Sastra dan Literasi!